Postingan

Di Bagian Akhir

Hujan turun dan menari-nari di muka jendela kamarku. Ia sepertinya sangat gembira bisa jatuh dari langit perlahan-lahan, tanpa menunjukan emosinya sama sekali. Sembari menunggu kantuk memanggil, aku membaca Heaven karya Mieko Kawakami. Buku yang menyakitkan dan ditulis dengan cerdas. Di dalam pelukan udara dingin sekaligus bikin aku nyaman, ku buka lembar demi lembar sembari berharap agar bisa segera menyelesaikannya. Aku tiba di bagian akhir dan menemukan kalimat, "... Apa yang akan tinggal akan tinggal, apapun yang terjadi. Sebaliknya, apa yang tak akan tinggal tak akan tinggal, apa pun yang kita lakukan." -halaman 226 Aku membacanya berulang-ulang tanpa kusadari. Aku betul-betul membacanya berulang-ulang hingga sesuatu dalam tubuhku terasa nyeri. Menyesakan. Kemudian, mataku dipenuhi bulir air yang tak tertahankan lagi. Setelah setahun lebih hampir berlalu, dan aku tetap mengingatnya.  "Apa benar itu memang bukan untukku? Atau aku yang kurang berupaya sehingga tidak b...

Mencari Makna

Tahun lalu, aku pernah mendapat kesempatan mengikuti program pengembangan diri dari perusahaan tempat aku bekerja. Kelasnya kurang lebih tiga bulan. Kelas itu bertajuk "Purpose Finder". Kelas ini berupaya membantu para karyawan untuk menemukan kembali dirinya sendiri, memahami dirinya sendiri, membantu menyusun tujuan hidup, dan meningkatkan daya hidup. Aku mengikuti setiap sesi kelas dan ketika kelas berakhir, aku akan diberi soal. Pertanyaan-pertanyaannya sangat sederhana. Tapi, beberapa kali aku mengalami kesulitan menjawab. Bukan hanya aku, tapi juga beberapa rekan kerjaku yang lain, yang direkomendasikan untuk mengikuti program ini. Kami saling bertatap muka, merasa konyol dan bodoh karena tidak bisa menjawabnya dengan mudah. Saat itu, aku merefleksikan diri, kenapa pertanyaan itu sulit dijawab dan kenapa sulit sekali menentukan sikap. Jika saat ini, aku bertanya pada dirimu, "tujuanmu apa?", "rencanamu bagaimana?" Kira-kira butuh berapa lama kamu men...

Makna Hidup yang Jatuh

Kamu berkeliling kota untuk mencari makna hidup yang terjatuh dari saku jaketmu tempo lalu. Sesekali kamu berhenti di sebuah kedai kopi yang hanya disinggahi oleh dua orang. Memesan secangkir kopi yang kini berbaring di hadapanmu. Kamu memandang ke atas untuk tidak melihat apa-apa. Tidak ada langit yang berhias bulan dan bintang. Tidak juga ada batang pohon yang menyelinap di sudut matamu. Tidak ada yang bisa kamu pandang kecuali dirimu sendiri. Secangkir kopi yang mencair dan menyelinap pergi menembus tanah, membuatmu merasa semakin sepi. Dia enggan menemanimu hingga pagi datang. Kamu sendirian beranjak dari tempat duduk yang sempit itu, dan kembali mengelilingi kota dengan harapan menemukan makna hidup yang hilang. "Sekali lagi." Katamu pada diri sendiri. Tidak ada kantuk yang datang. Tidak ada juga lapar yang menyerang. Tubuhmu sakit dan hilang. Kamu tidak merasakan apapun kecuali kenyataan bahwa ia telah pergi darimu kali ini. Kamu terus kembali ke belakang dengan harapan...

Tidur

Gambar
Waktu membangunkanku dari tidur yang lelap. Aku melihat jam dari telepon genggam di dalam gelap kamar yang dingin dan nyaman. "Ah, masih pukul 5 pagi." Kataku di dalam hati. Aku kembali tidur lalu memimpikan sesuatu. Pukul 5.30 pagi akhirnya aku meninggalkan kasur dan menuju kamar mandi. Aku masih memiliki cukup waktu untuk menonton satu episode Taxi Driver season kedua sebelum akhirnya melamun sepanjang 30 KM jarak yang dibentangkan takdir hampir 9 tahun hidupku. Beberapa bulan ini, aku punya kebiasaan yang lebih baik. Aku tidur di bawah pukul 10 malam. Meskipun sesekali baru bisa tidur pukul 12 malam karena satu dan lain hal tapi, intensitasnya tidak banyak. Rata-rata waktu tidurku 7 jam. Ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Aku bisa pergi bekerja dengan cukup sehat, dan kemudian sarapan. Aku suka sarapan sekarang, ini juga kebiasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Selepas bekerja aku akan pergi olahraga. Perusahaan memfasilitasi ini, dan aku ingin berkomitmen menjal...

Hal Yang Tak Terekam oleh Kamera

Gambar
Bagaimana caramu menggambar sebuah perasaan? Mungkin kamu akan menjawabnya dengan "raut wajah". Tapi, agaknya itu tidak selalu berhasil. Wajah dan ekspresi adalah sesuatu yang bisa dikendalikan. Namun apa yang terjadi pada hati kita adalah kenyataan yang tidak dapat kamu senyembunyikan di balik kedua telapak tanganmu. Seekor kucing tersenyum di bawah terik sinar matahari yang sedang bersemangat menyambut akhir pekan. Angin siang sedang berlibur di pantai, dan langit membiru dengan sangat indah sekaligus menyakitkan. Jantungku ingin melompat ke luar sebab di dalam tubuhku terasa panas membakar tulangku. Ia seperti ingin larut di dalam air yang tenang, jujur, dan apa adanya. Tapi, situasi berkata lain. Kepalaku bilang, simpan dulu semuanya dengan marah yang diendapkan, sebab hari masih panjang. Udara tak kunjung mendingin meski sore telah tiba. Tapi, aku tetap ingin hangat meski keringat berlarian di punggungku. Aku pergi menemui teman-teman di sebrang kota. Aku ingin sebuah ce...

Bagaimana Jika

Matahari menyapaku dari timur ketika keringat menari-menari di atas tubuhku. Cahaya yang menyilaukan mata sekaligus menerangi hati yang hampa. Jalanan macet sebab semua orang jenuh. Ketika menunggu antrian untuk keluar dari jalur kendaraan yang padat, sesuatu mengetuk isi kepalaku. "Kalau muak sama kerjaan, ya, resign aja!"   Kalimat yang akan keluar dari mulut sebagian teman-teman yang kita percaya sebagai tempat berkeluh kesah. Sebuah jawaban tidak menimbang rasa empatik kepada dirimu yang tengah terluka namun berusaha bertahan. Sakit ya rasanya ketika seseorang tidak memahami kita dengan baik? Sehari-hari sangat melelahkan hingga tidak ada lagi keinginan untuk berpikir jauh ke depan. Rasanya seperti terjebak, terkurung, tersisihkan, terbawa arus, dan terluka di waktu yang bersamaan. Sepanjang waktu berpikir ingin menyerah dan keluar dari pekerjaan yang lebih sering menyakiti hati ketimbang mendorong hidup kita ke depan. Peraturan yang terus mengikat kencang leher kita. Rek...

4 Hari Lebaran

Menurut tradisi, lebaran adalah momentum silaturahmi dengan sebanyak-banyaknya orang yang hadir di dalam hidup kita. Mungkin itu benar adanya atau mungkin juga tidak. Aku tidak lagi berpikir bahwa lebaran adalah hal yang menyenangkan. Itu membuatku merasa semakin kesepian dan terbebani oleh deretan ekspetasi yang datang sekaligus dari berbagai macam orang. Meski begitu, aku tetap berpikir bahwa mungkin harus ada sesuatu yang kita jalani meski itu tidak lagi menyenangkan. Kamu tidak bisa begitu saja pergi hanya karena kamu tidak menyukainya. Kamu juga tidak bisa begitu saja lupa, hanya karena kamu tidak mau terlibat di dalamnya.  Dalam hatiku saat itu, "ketimbang kubuang energiku untuk marah, sebaiknya kupakai untuk menerima hidup sebagaimana adanya. Kalaupun harus melawan, bisa kulakukan nanti." Angin panas berlarian sejak jumat pagi di atap rumahku. Itu adalah hari puasa terakhir di bulan ramadan. Suara takbir menari-nari diantara ruang duduk kami. Sembari berdzikir dalam ha...