Tidur

Waktu membangunkanku dari tidur yang lelap. Aku melihat jam dari telepon genggam di dalam gelap kamar yang dingin dan nyaman. "Ah, masih pukul 5 pagi." Kataku di dalam hati. Aku kembali tidur lalu memimpikan sesuatu. Pukul 5.30 pagi akhirnya aku meninggalkan kasur dan menuju kamar mandi. Aku masih memiliki cukup waktu untuk menonton satu episode Taxi Driver season kedua sebelum akhirnya melamun sepanjang 30 KM jarak yang dibentangkan takdir hampir 9 tahun hidupku.

Beberapa bulan ini, aku punya kebiasaan yang lebih baik. Aku tidur di bawah pukul 10 malam. Meskipun sesekali baru bisa tidur pukul 12 malam karena satu dan lain hal tapi, intensitasnya tidak banyak. Rata-rata waktu tidurku 7 jam. Ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Aku bisa pergi bekerja dengan cukup sehat, dan kemudian sarapan. Aku suka sarapan sekarang, ini juga kebiasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Selepas bekerja aku akan pergi olahraga. Perusahaan memfasilitasi ini, dan aku ingin berkomitmen menjalaninya. 

Jujur saja, rasanya sulit sekali melawan hawa malas, dan kepalaku seringkali membuat alasan untuk tidak pergi olahraga. Namun, kamu tahu gak? Hal yang paling sulit dari kebaruan adalah menghadapinya. Aku berpikir setelah 4 tahun yang melelahkan ini, rasanya aku pantas memperoleh hidup yang jauh lebih baik dan layak.

Sudah 5 tahun sejak aku menjadi seorang pekerja profesional, aku tidak menjalani hidup dengan baik. Aku hanya punya waktu tidur rata-rata 5 jam sehari. Namun, dalam waktu 5 jam itu, setiap 2 jam aku akan terbangun dan gelisah. Meski tubuhku lelah, aku juga mengalami kesulitan tidur, gangguan panik, sleep paralysis dan kejang ketika tidur. Berbagai cara sudah kulakukan, mulai dari mematikan lampu, mendengarkan musik, menelepon seseorang, menghitung 1-100, hingga berdzikir dalam hati. Aku melakukan segalanya agar bisa pergi tidur.


Dalam malam-malam tertentu, aku akan mengalami kesulitan bernapas, lalu mengambil alat bantu agar merasa lebih baik. Kemudian aku akan tidur dalam keadaan setengah sadar, dan hampir setiap jam mengubah posisi tidurku. Pada malam-malam lainnya, aku tidak sanggup tidur di kasur dan seringkali berpindah ke lantai yang membuat pagiku terasa menyakitkan. Di malam lainnya, aku akan terbangun dini hari, dan tidur di sofa ruang keluarga.

Mengingat itu semua, aku merasa terluka dan begitu menyedihkan. Aku keluar masuk Rumah Sakit meski tidak sampai dirawat. Aku berganti-ganti mengonsumsi jenis obat agar tubuhku tetap bisa menjalankan aktivitas. Aku bisa tiba-tiba jatuh sakit ketika bekerja hingga harus tidur di kantor, hingga berkali-kali dilarikan ke IGD. Tahun-tahun yang begitu sulit dan melelahkan.

Aku sangat senang bisa memiliki hari ini, memiliki bulan-bulan ini, yang memberiku lebih banyak manfaat dan kesehatan yang paripurna. Aku tahu, ini belum lama kumiliki dan kujalani, tapi aku berharap aku dapat terus memilikinya. Aku senang bisa tidur tanpa kesulitan, aku senang bisa bangun ketika adzan subuh berkumandang, aku senang tidak lagi sering merasa sakit kepala, aku senang tidak selalu mimpi buruk, dan yang paling penting adalah aku tidak lagi terbangun di tengah malam.

Hal-hal buruk itu tidak hilang begitu saja karena aku masih mengalaminya, tapi setidaknya, intensitas kehadirannya sangat jarang. Aku tidak tahu sampai kapan keberkahan ini akan kumiliki, tapi, aku berhadap aku dikelilingin oleh orang-orang yang sama sehatnya, sama baiknya, memiliki lebih banyak energi positif, dan membantuku untuk setidaknya merasa lebih ringan dan nyaman. Aku berharap kita bisa saling membersamai dan mendukung untuk menjalani hidup yang meski tidak bikin kita jadi kaya raya, minimal jadi lebih sehat dan bahagia. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup