Hal Yang Tak Terekam oleh Kamera

Bagaimana caramu menggambar sebuah perasaan? Mungkin kamu akan menjawabnya dengan "raut wajah". Tapi, agaknya itu tidak selalu berhasil. Wajah dan ekspresi adalah sesuatu yang bisa dikendalikan. Namun apa yang terjadi pada hati kita adalah kenyataan yang tidak dapat kamu senyembunyikan di balik kedua telapak tanganmu.



Seekor kucing tersenyum di bawah terik sinar matahari yang sedang bersemangat menyambut akhir pekan. Angin siang sedang berlibur di pantai, dan langit membiru dengan sangat indah sekaligus menyakitkan. Jantungku ingin melompat ke luar sebab di dalam tubuhku terasa panas membakar tulangku. Ia seperti ingin larut di dalam air yang tenang, jujur, dan apa adanya. Tapi, situasi berkata lain. Kepalaku bilang, simpan dulu semuanya dengan marah yang diendapkan, sebab hari masih panjang.

Udara tak kunjung mendingin meski sore telah tiba. Tapi, aku tetap ingin hangat meski keringat berlarian di punggungku. Aku pergi menemui teman-teman di sebrang kota. Aku ingin sebuah cerita dan tawa yang mungkin saja bisa aku dapatkan melalui keyakinan mereka terhadap sesuatu yang membuatnya terus tetap hidup. Aku ingin itu, aku ingin hidup.

Sepanjang acara di sebrang kota, ada banyak hal yang tak mampu terekam oleh mata telepon genggam. Ingatan agaknya lebih indah dipandang melalui mata kita yang hangat dan lelah. Sapaan dari mulut orang-orang memberiku kenangan bahwa sudah lama sejak terakhir aku merasakan ini, ketika orang yang pernah mengenalmu, atau baru mengenalku, atau sedang bersamamu ada di ruang yang sama tanpa paksaan. Tangan-tangan yang berpasangan kerapkali menggenggam tanganku yang dingin dan sakit. Pelukan hangat yang datang dari tubuh orang lain, menemani perasaan sepi dan sedih tubuhku yang lelah.

Di sana, orang-orang saling bercerita, menyanyikan sesuatu, membaca puisi, tertawa tanpa alasan, dan meminum segelas kopi yang manis. Di sisi panggung, terjadi percakapan di antara dua orang yang saling memberi harapan. Seorang teman berdiri di belakang dan menikmati apa saja yang disajikan di atas sana. Beberapa orang berkumpul di dalam ruang hitam untuk melihat lukisan. Sekelompok orang duduk dengan nyaman di pojok halaman sambil menikmati apa saja yang lewat di hadapan mereka.

Dua orang sahabat bertemu setelah beberapa lama dan saling meledek satu sama lain. Tatapan mereka bertemu. Kata-kata yang keluar menjadi cerita yang saling bertaut diantara kedua orang itu. Mata telepon genggam tidak dapat merekam ketulusan yang terpancar dari mata seseorang atau tidak mempu menggambarkan rasa sayang yang membucah melalui kata-kata, atau dari pelukan, atau dari tangan seseorang.

Kita memberi kabar dan kemudian berpisah. Sebelum berpisah semua orang berkata, "selamat ya", "semangat ya", "hati-hati di jalan", "sampai jumpa lagi", dan "terima kasih" kepada satu sama lain. Kita tahu, tidak ada perpisahan yang indah dan mudah. Kita ingin terus begini. Tapi, hidup selalu menunggu kita di depan. Namun satu yang mungkin bisa kita yakini adalah ketika sesuatu membuatmu ragu, dingin, gelap, dan mencekam, kamu pernah memiliki hari ini. Hari yang hangat, dingin, dan indah. Kamu memiliki daftar panjang nama orang-orang yang bisa kamu hubungi. Kamu memiliki cerita dari kenangan orang-orang yang kamu pedulikan.

Apa yang kita butuhkan ketika menjalani hidup ini? Yaitu adalah persahabatan, kepercayaan, rasa hormat, dan membiarkan yang lain menjadi diri sendiri dan itu seharusnya mudah. Itu adalah seseorang yang menghilang saat yang lain meminta ruang, tetapi selalu ada saat mereka membutuhkanmu.


3 Juni 2023


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup