Makna Hidup yang Jatuh
Kamu berkeliling kota untuk mencari makna hidup yang terjatuh dari saku jaketmu tempo lalu. Sesekali kamu berhenti di sebuah kedai kopi yang hanya disinggahi oleh dua orang. Memesan secangkir kopi yang kini berbaring di hadapanmu. Kamu memandang ke atas untuk tidak melihat apa-apa. Tidak ada langit yang berhias bulan dan bintang. Tidak juga ada batang pohon yang menyelinap di sudut matamu. Tidak ada yang bisa kamu pandang kecuali dirimu sendiri.
Secangkir kopi yang mencair dan menyelinap pergi menembus tanah, membuatmu merasa semakin sepi. Dia enggan menemanimu hingga pagi datang. Kamu sendirian beranjak dari tempat duduk yang sempit itu, dan kembali mengelilingi kota dengan harapan menemukan makna hidup yang hilang. "Sekali lagi." Katamu pada diri sendiri.
Tidak ada kantuk yang datang. Tidak ada juga lapar yang menyerang. Tubuhmu sakit dan hilang. Kamu tidak merasakan apapun kecuali kenyataan bahwa ia telah pergi darimu kali ini. Kamu terus kembali ke belakang dengan harapan menemukannya lagi. Tapi, ia tak lagi di sana. Tak juga ada di sisimu saat ini. Ia sudah ada di depan, tapi, kamu terus mengejarnya ke belakang.
Kamu hanya bertemu sesal di sana dan Ia tidak ada. Angin malam yang menari-nari sembari menertawaimu berteriak dengan lantang, "kejarnya ke depan! Kamu akan bertemu dengannya dengan versi yang berbeda."
Saat itu, matamu terbuka. Lampu - lampu jalan menyapamu dengan hangat setiap 50 meter sekali. Kamu sadar tidak ada yang hilang, ia hanya berubah bentuk. Kamu hanya perlu menemukannya lagi di depan dengan versi dirimu yang berbeda. Sebab, langit malam yang gelap baru saja menjelaskan padamu bahwa yang kita punya bukan hanya masa lalu dan hari ini, tapi, ada masa depan yang bersedia untuk kamu raih kapan saja kamu mau.
Komentar
Posting Komentar