4 Hari Lebaran

Menurut tradisi, lebaran adalah momentum silaturahmi dengan sebanyak-banyaknya orang yang hadir di dalam hidup kita. Mungkin itu benar adanya atau mungkin juga tidak. Aku tidak lagi berpikir bahwa lebaran adalah hal yang menyenangkan. Itu membuatku merasa semakin kesepian dan terbebani oleh deretan ekspetasi yang datang sekaligus dari berbagai macam orang. Meski begitu, aku tetap berpikir bahwa mungkin harus ada sesuatu yang kita jalani meski itu tidak lagi menyenangkan. Kamu tidak bisa begitu saja pergi hanya karena kamu tidak menyukainya. Kamu juga tidak bisa begitu saja lupa, hanya karena kamu tidak mau terlibat di dalamnya. 

Dalam hatiku saat itu, "ketimbang kubuang energiku untuk marah, sebaiknya kupakai untuk menerima hidup sebagaimana adanya. Kalaupun harus melawan, bisa kulakukan nanti."

Angin panas berlarian sejak jumat pagi di atap rumahku. Itu adalah hari puasa terakhir di bulan ramadan. Suara takbir menari-nari diantara ruang duduk kami. Sembari berdzikir dalam hati, aku dan teman perempuanku bercerita kisah hidup yang tengah kami jalani masing-masing dengan tabah dan sabar. Sebagai seorang yang dewasa, meski merasa hidup ini tidak adil dan sulit, kami ternyata bisa menertawakannya dan mengakui kebodohan kami. Tema pembicaraan kami cukup personal. Kami berdua sama-sama melihat urusan romansa sangat personal sehingga kami tidak akan membicarakan topik ini jika duduk lebih dari 2 orang.

Hari lebaran tiba. Aku berkaca pada pagi yang dingin dan melihat diriku sangat mengantuk. Tapi, salat tetap dijalankan dengan sepenuh hati. Di malam hari yang panas, aku menghabiskan hari pertama lebaran bersama teman-temanku. Teman yang kukenal sejak duduk di bangku kuliah, tepatnya ketika aku memutuskan untuk berkomunitas.

Tiba-tiba saja kami berkumpul di sebuah cafe yang sengaja buka di hari lebaran. Malam itu, kesepian melengkapi tubuh dari balik kursi yang kami duduki. Saling melempar topik dan menertawakan hal-hal konyol yang kita lihat, kita lakukan, dan kita renungi. Lebih dari 5 jam kami saling hadir untuk menyeimbangkan duka di dalam hati kami masing-masing. Topik pembicaraan mengacu pada pertanyaan, "apa yang salah dari kita?" Seorang teman berkata bahwa hidup tidak berubah secara signifikan itu kenapa ya? 

Hari Minggu bertamu dengan sopan dari depan kamarku. Ia membawa 2 temanku yang sudah kukenal lebih dari 10 tahun lamanya. Kami membicarakan kesengsaraan yang kerap kali hadir diantara matahari dan hujan. Cuaca yang panas, dan air yang turun. Kamu tahu rasanya? Tidak dapat dipahami. Sejak pukul 12 siang hingga 9 malam, kami melompati ruang dan waktu berkali-kali sembari mengenang segala sesuatu yang sudah dilewati. Tema percakapan adalah soal kemampuan finansial kami yang seperti lingkaran setan alias sulit untuk sejahtera, bekerja di tempat yang beracun, dan seterusnya dan seterusnya. Meski kami berkeringat hari itu, meski begitu pedih hidup ini, dan hidup orang-orang yang di sekeliling kami, aku dan teman-temanku tidak lupa membicarakan hari esok meski sebentar.

Di senin sore yang ceria, akhirnya aku bertemu dengan teman-temanku yang dewasa dan bijaksana. Mereka adalah orang-orang yang kuhormati tanpa rasa pamrih. Sejak pukul 5 sore hingga 10 malam, kami membicarakan apa saja. Terutama soal politik, gerakan buruh, dan kasus kekerasan seksual yang terjadi di sekeliling lingkaran pertemanan kami. Ragam perasaan tergambar lewat wajah kami yang lelah. Senang bisa berkumpul dan saling bercerita, bahagia karena bisa menertawakan lelucon, dan sedih karena kekerasan kerap kali hadir diantara kita yang mulai kelelahan. 

4 hari lebaran tahun ini, aku ditemani oleh teman-teman dengan lingkaran yang berbeda rupa. Namun, intinya adalah kita punya kesamaan ingin kaya raya meski belum tahu caranya. Jauh lebih penting dari semua itu, ternyata kita bisa saling hadir untuk memberi dukungan atas hal yang kita pilih dan doa-doa yang tidak putus dipanjatkan meski pandangan kami jelas tidak selalu sama.

Apa yang lebih mendesak dari saling mendukung satu sama lain? Tidak ada. Ini bukan soal uang, bukan soal kekuasaan, bukan juga soal nilai dari diri satu sama lain, tapi dari seberapa mau kita bertatap muka tanpa banyak fafifu wasweswos untuk memulai sebuah pertemuan. Meski semua ini terjadi bukan hanya karena diriku, tapi, aku berterima kasih kepada teman-teman yang sudah mengisi hari lebaranku dengan menyenangkan dan mengusir perasaan sepi dan tereliminasi.

Selamat lebaran.


21-24 April 2023


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup