Bagaimana Jika
Matahari menyapaku dari timur ketika keringat menari-menari di atas tubuhku. Cahaya yang menyilaukan mata sekaligus menerangi hati yang hampa. Jalanan macet sebab semua orang jenuh. Ketika menunggu antrian untuk keluar dari jalur kendaraan yang padat, sesuatu mengetuk isi kepalaku.
"Kalau muak sama kerjaan, ya, resign aja!"
Kalimat yang akan keluar dari mulut sebagian teman-teman yang kita percaya sebagai tempat berkeluh kesah. Sebuah jawaban tidak menimbang rasa empatik kepada dirimu yang tengah terluka namun berusaha bertahan. Sakit ya rasanya ketika seseorang tidak memahami kita dengan baik? Sehari-hari sangat melelahkan hingga tidak ada lagi keinginan untuk berpikir jauh ke depan. Rasanya seperti terjebak, terkurung, tersisihkan, terbawa arus, dan terluka di waktu yang bersamaan.
Sepanjang waktu berpikir ingin menyerah dan keluar dari pekerjaan yang lebih sering menyakiti hati ketimbang mendorong hidup kita ke depan. Peraturan yang terus mengikat kencang leher kita. Rekan kerja yang seperti omong kosong ketimbang mengembuskan makna. Tapi, kita bertahan lagi dan terus melakukannya sepanjang waktu, menyeret diri terus menerus dengan segelas air mineral di tangan kanan.
Memutuskan untuk bekerja sama sulitnya ketika memutuskan untuk keluar. Akankah kita menyerah pada proses atau bertahan untuk mendapat jawaban yang masuk akal? Kita tahu segalanya tidak ada yang sederhana. Tapi, yang kita dapat adalah jawaban-jawaban tanpa empati yang terus menerus keluar dari mulut teman-teman yang kita sayang. Begitu menyedihkan, ya?
Namun, aku tidak mau menyerah mencari jawaban yang dapat memuaskanku ketika berpikir apa alasanku melakukan sesuatu. Aku menemukannya di akhir lagu yang bermain-main di kedua telingaku. Aku merasa belum memiliki alasan yang cukup bagus untuk berhenti bekerja, dan tidak memiliki alasan yang cukup bagus untuk tetap bekerja. Aku tidak memiliki jawaban yang masuk akal dan terukur. Aku tidak bisa berhenti hanya karena aku tidak menyukainya. Aku harus tahu darimana ketidaksukaan itu datang. Jika memang terukur artinya itu bisa dikompromikan. Aku tidak bisa menyerah begitu saja pada sesuatu yang membuatku tidak bahagia saat ini. Hanya karena aku sedang memprosesnya. Jika ketidakbahagiaan itu bisa diatasi, artinya masih ada jalan untuk terus hidup.
Kalau kamu bagaimana? Apa yang membuatmu tetap berada di posisimu saat ini?
Atau mungkin sebetulnya seperti inilah wajah kehidupan? Life is just like this and nothing more. Tapi, di dalam hati, kita ingin lebih, aku ingin hal yang lebih besar, kita ingin hal yang lebih baik. Namun, apa itu? Sejauh mana yang diinginkan? Sedalam apa yang kita butuhkan? Melelahkan rasanya jika hidup hanya terus berputar pada "what if? what if? and what if?" Enggak mudahkan?
Jadi, ini yang bisa kamu lakukan ketika temanmu berkeluh soal pekerjaan dan hidupnya. Pertama dengarkan, karena ia sudah cukup lelah bertahan. Kedua, katakan hal yang baik, seperti "you are doing good. Its enough." atau "aku mengerti perasaan kamu. Kamu lelah, tapi kamu juga ingin terus bertahan, ya. Jika lelah lagi, ceritakan lagi itu padaku."
30 April 2023
Komentar
Posting Komentar