Mencari Makna

Tahun lalu, aku pernah mendapat kesempatan mengikuti program pengembangan diri dari perusahaan tempat aku bekerja. Kelasnya kurang lebih tiga bulan. Kelas itu bertajuk "Purpose Finder". Kelas ini berupaya membantu para karyawan untuk menemukan kembali dirinya sendiri, memahami dirinya sendiri, membantu menyusun tujuan hidup, dan meningkatkan daya hidup. Aku mengikuti setiap sesi kelas dan ketika kelas berakhir, aku akan diberi soal.

Pertanyaan-pertanyaannya sangat sederhana. Tapi, beberapa kali aku mengalami kesulitan menjawab. Bukan hanya aku, tapi juga beberapa rekan kerjaku yang lain, yang direkomendasikan untuk mengikuti program ini. Kami saling bertatap muka, merasa konyol dan bodoh karena tidak bisa menjawabnya dengan mudah. Saat itu, aku merefleksikan diri, kenapa pertanyaan itu sulit dijawab dan kenapa sulit sekali menentukan sikap. Jika saat ini, aku bertanya pada dirimu, "tujuanmu apa?", "rencanamu bagaimana?" Kira-kira butuh berapa lama kamu menyelesaikan jawabannya? Jujur saja, aku butuh berhari-hari saat itu. Aku menulis dan menghapusnya, hingga merasa putus asa.

Di tahun ini, di perusahaan yang berbeda, aku kembali diikutsertakan dalam program pengembangan karakter. Seorang psikolog profesional diminta untuk membuat ilustrasi untuk menyamakan cara pandang perusahaan dan karyawannya. Kelas berlangsung tiga jam dengan intim dan interaktif. Di akhir kelas dia berkata, "Apa yang membedakan ilustrasi satu dengan yang lainnya?" Sepuluh orang di kelas menjawab dengan cara yang berbeda. Kemudian ia menarik napasnya lalu berkata, "sikap. Masa depan mereka berbeda karena sikap mereka ketika menghadapi hidup ini berbeda."

Jika kita berada dalam satu kelompok yang sama, kenapa nasib yang kita hadapi di masa depan bisa berbeda? Karena cara kita menyikapi hidup berbeda. Ia menyontohkan 3 tipe. Tipe pertama, adalah tipe yang "jalani ajalah, adanya begini." Tipe kedua adalah tipe visioner, tipe ini memandang segala yang ia lakukan hari ini untuk tujuan yang ingin ia capai. Tipe ketiga adalah tipe kolaboratif. Tipe ini berpikir bahwa apa yang ia lakukan semata-mata untuk kontribusinya terhadap masyarakat.

Dalam ilustrasi tersebut, hanya tipe pertama yang nasibnya tidak berubah bahkan hingga ke keturunannya. Tipe 2 dan 3 memiliki nasib yang berbeda, masa depan generasinya berubah menjadi lebih sejahtera dan luhur.

Dari dua pengalaman itu aku belajar bahwa, harapan yang tinggi itu tidak salah, kemampuan yang belum mumpuni saat ini itu bukan masalah, tapi, kalau hidup tidak berpegang pada makna, pada tujuan, pada rencana, dan yang paling penting adalah jika kamu tidak punya kemampuan menyikapi hidup dengan cara yang benar, maka, apa yang ada di depan juga tidak ada arahnya.

Selamat menyambut tahun 2024 dengan sepenuh hati. Jika tujuanmu di tahun 2023 belum tercapai, tetap lanjutkan di tahun selanjutnya. Jika di tahun 2023 kamu tidak menuliskan tujuanmu, maka boleh lakukan itu mulai sekarang. Kamu tahu bahwa tidak perlu genap untuk memulai dan menyelesaikan sesuatukan? Kamu bisa memulainya saat ini, atau 9 januari, atau kapan saja. Tidak ada yang terlambat jika kita bisa mengejarnya. Kita bayar apa yang sudah kita lewatkan. Jika yang pernah direncanakan tidak berhasil, maka kita refleksikan, bagaimana sikap kita ketika menghadapinya saat itu? 

Kita tidak perlu harus selalu hebat. Yang kita butuhkan adalah alasan kita melakukannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup