Hidup dan Yang Membuatnya Hidup
Malam membangunkan tidurku yang baru saja berangkat selama satu jam dari lelap yang kupaksakan. Aku tidak bisa meminta tidur untuk datang lagi dan menggantikan lelahku. Akhirnya aku menunggu pagi mengetuk pintu dan memintaku bermain bersamanya. Kaki berlari bersama pagi dan menyapa orang - orang yang ditemani kopi, nasi uduk, bubur, soto, bala-bala, dan kantuk yang hadir di hadapan mereka.
Sebelum pergi tidur siang, aku merapikan rambutku yang terurai panjang. Aku ingin mengguntingnya hingga setara dengan bahuku. Setiap kali aku melakukan itu, harapanku hanya satu, yaitu tolong ringankan kepalaku ini. Rambutku lebat seperti kesedihanku yang tidak pernah berkurang. Agaknya itu karena aku merawat rasa sedih itu di dalam tubuhku sendiri, hingga ia tetap ada di sana, dan dapat menyerangku kapan saja.
Aku pergi tidur bersama buku yang terbuka.
Orang tuaku memiliki kebun yang disertai empang yang cukup untuk dihuni ribuan ikan di dalamnya. Aku duduk di sana sambil makan nasi dan telur. Menu makanan sederhana adalah kegemaranku. Hidup membuatku pusing, aku tidak suka dihadirkan menu makanan yang terlalu banyak. Rumit untukku. Setelah itu, aku menonton Death Poetry Society yang indah dalam ingatanku. Ah, ya aku ingat aku ingin menjadi seorang pembelajar. Film itu menyentuh permukaan hatiku yang dingin dan kembali bertanya, "kenapa orang - orang menjadi bahagia ketika membicarakan hidup?" Romantika, cinta, dan kebebasan agaknya dua hal sederhana yang menghidupi daya hidup kita selama ini, ya. Tapi, sistem merenggut itu, dan membuat kita melupakan pada apa yang sebenarnya menjadi milik kita sejak awal.
Mengapa kebebasan dianggap tidak teratur dan dinilai lebih banyak melahirkan kesengsaraan? Aku memilih apa yang menjadi pilihanku hingga hari ini dan menanggung semua perjalanannya sendiri. Tapi, bagaimana dengan mereka yang tidak punya pilihan sejak awal? Bahkan pendapatnya pun tidak didengar. Kenapa orang tua tidak berubah? Terus mengatakan bahwa "kesempatan yang kamu punya adalah hal yang tidak pernah Ayah dapatkan." Siapa memang yang menginginkan itu? Bahkan seumur hidup meski menjalani yang bukan untukmu, kamu akan menanggungnya sendiri.
Setelah menonton dan melewati setengah hari yang tenang dan biasa saja. Aku mencatat sesuatu yang keluar dari tubuhku. Seperti ini isinya.
Aku berdoa tanpa keangkuhan untuk
menginginkan segalanya yang ada di bumi
Aku selalu bilang padaNya
"Berikan ketenangan hati dan kejernihan pikiran"
sejak aku memasuki usia 18 tahun
dan doa itu tidak pernah berubah, bertambah, atapun berkurang
Dia tidak marah. Dia berikan senyum
lebih hangat untuk tahun-tahun hidupku
yang berat
Orang - orang melihat senyum itu
dari garis wajahku yang lelah dan sesak
hingga berkali-kali ingin
menghilangkan diri sendiri
Adakah yang mampu melihat
gelap ini
diantara gemilang cahaya
yang kusorotkan ke matamu
hingga siapapun tak mampu
melihat sedih itu?
Tahun ini usiaku genap 27 tahun. Ini memang berbeda dari usia yang dituliskan di Kartu Tanda Penduduk karena masa kecilku sedikit rumit. Aku sudah meminta Mama berhenti merayakan hari lahirku setelah aku berusia 20 tahun. Tapi, kata Mama "kalau kita tidak mensyukuri hidup ini sejak awal, bagaimana caramu menikmatinya?" Dan ya, dia tetap merayakannya meski tanpa aku. Begitu rupa Mama yang tidak bisa kusapa dengan tanganku sendiri.
Komentar
Posting Komentar