Menjadi Perempuan Dewasa

sumber

Aku baru saja menyelesaikan dua buku. Hal yang kuingat di dalam kedua buku itu adalah kita tidak lagi seringan ketika masih anak-anak. Ketika tumbuh dewasa banyak yang kita tinggalkan, dan selalu berpura-pura kepada orang lain.


Aku sebenarnya sangat mengutuk hidupku sendiri. Aku tidak selalu merasa senang padahal kesedihan mudah runtuh. Setiap hari berlalu begitu saja. Matahari terbit, lalu terbenam ketika sudah lelah. Kadang-kadang matahari menghilang dan digantikan hujan, dan malam selalu gelap. Aku mungkin seperti manusia kebanyakan, yang tidak bisa menghadapi kenyataan bahwa waktu akan selalu berjalan dan aku tidak ingin berlari. Aku tidak bisa menerima waktu. Aku ingin tetap berusia 24 tahun, aku tidak ingin tumbuh dewasa.


Ruangan ini begitu sempit, tetapi dingin. Aku sudah pernah masuk di dalamnya ketika menyelesaikan kuliah strata satu 2 tahun yang lalu. Kini, aku akan mengakhiri pendidikan jenjang selanjutnya. Seperti waktu itu, aku tidak bahagia jika kenyataannya adalah aku akan menyelesaikan sekolahku lagi. Ini mengartikan bahwa aku akan bertambah usia dan menjadi tua nantinya. Aku tidak ingin dibanjiri pertanyaan, “kapan menikah, Dea?”, “kapan punya anak, Dea?”, terlebih lagi jika pernyataan yang membandingkan aku dengan teman sebaya yang sudah menikah dan miliki anak, katanya mereka bahagia, padahal tujuan hidupkan tidak selesai sampai di situ. Katanya aku juga tidak boleh terlalu pintar dan sibuk, sebab aku anak perempuan dan hidup dilingkungan yang masih kental budaya partiarkinya. Tapi aku juga tidak ingin bodoh dan tidak bisa melakukan apa-apa, bagiku lebih penting memanusiakan hidup kita sendiri.


Sudah waktunya aku masuk ruang ujian. Dua orang yang kutahu adalah seorang profesor dan yang satunya adalah doktor. Kegiatan formalitas ini pun berlangsung dengan beberapa mahasiswa magister lainnya di belakang para penguji. Aku menyelesaikan persoalan ini dalam waktu satu jam empat puluh tujuh menit. Dan tidak bahagia sama sekali. Aku menyalami para penguji dan mengatakan terimakasih telah membinaku selama ini sekaligus karena telah memasukanku ke dalam neraka baru. Kemudian aku menyalami teman-temanku yang menyedihkan. Aku pikir anak muda selalu memiliki raut wajah yang sedih, entah kenapa.


Setelah menyelesaikan segela urusan formalitas di kampus, aku pulang dengan sedikit bangga dan penuh dengan kehampaan. Keluargaku menyambut kepulanganku dengan senang. Aku pun berpura-pura senang. Kata Ibuku, aku seharusnya sudah semakin siap dan matang menjadi perempuan. Aku memiliki pekerjaan yang bagus, pendidikan yang tinggi, dan baginya itu cukup. Tapi, bagiku tidak, urusanku dengan dunia ini belum selesai, sebab aku harus membawa manusia lain berada di sisi yang baik juga, yang kata ibuku cukup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup