Hening
Sudah lebih dari 5 kali lebaran, aku ikut arus mudik setiap hendak pergi dan pulang bekerja. Dari rumahku ke tempat kerja berjarak 30 km. Tidak bisa dibilang jauh, juga tidak bisa dibilang dekat. Ini yang bikin aku dilema setiap kali berencana untuk sewa kamar kost agar aku tidak terlalu lelah. Tapi, akhirnya sudah 5 tahun lebih aku bolak - balik dari rumah ke tempat kerja.
Di sore hari yang lembap, matahari bersembunyi di balik awan hitam. Aku berada di tengah arus mudik yang padat dan sesak. Tapi, aku menikmatinya. Aku baru saja menyadari bahwa aku suka memperhatikan orang lain dan terlarut dalam perasaan yang mereka punya. Sesekali aku melirik wajah orang di sampingku, atau curi pandang pada pengendara mobil lain yang tampak gusar melihat semua ini.
Ada sopir truk yang memandang jauh ke depan tanpa tahu apa yang dilihatnya. Ada sopir minibus yang membuka kaca jendela dan menghisap rokoknya. Ada juga seorang anak yang menopang wajahnya di pintu mobil dengan bosan. Ada seorang pengendara motor yang memutar lehernya karena pegal. Di tengah jalan yang padat, kita semua tidak mengatakan apapun. Kita berkumpul di sini dan hening, hanya terdengar suara kendaraan.
Aku merasa takjub. Aku takjub dengan kekuatan kita mengambil keputusan ini. Keputusan untuk pergi mudik, pergi bekerja, pergi berbelanja, dengan ketahuan kita bahwa kita akan terjebak selama beberapa jam. Aku takjub pada keheningan yang kita ciptakan sembari memikirkan banyak hal di kepala kita. Semua orang, saat ini diam, lelah, dan bosan. Tapi, kita semua melihat ke depan, menginginkan hal yang sama, meski wajah yang dibayangkan berbeda.
Betapa keras upaya kita untuk menuju sesuatu yang kita sebut rumah. Betapa banyak cinta kasih yang kita miliki sehingga rela melakukan ini semua selama berjam-jam sambil terus berusaha mengatasi mentalitas kita yang semakin merosot. Cinta, agaknya memang punya rupa tanpa perlu kata-kata.
Kita rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang untuk melakukan semua ini; pulang kampung, pergi bekerja, menemui seseorang, membeli sesuatu, dan sebagainya, dan seterusnya. Meski kesialan juga terus menimpa sepanjang jalan. Ada seorang pengendara motor mengais sandalnya yang lepas, sepaket makanan yang terjatuh di jalan lantas hancur berantakan, beberapa pengendara yang menepi dan menarik napas panjang, dan tepat di depanku, saat itu, seorang pengendara motor tanpa sadar baru saja kehilangan beberapa rupiah yang lari ditarik angin dari kantong jaketnya.
Kita begitu rela melakukan sesuatu dan kehilangan sesuatu untuk menuju tempat yang kita inginkan. Pada akhirnya, kita bahagia sekaligus menderita dalam hening. Sebuah rupa perasaan tanpa suara, dan kita hanya terus melakukannya tanpa mengatakan bahwa itu bentuk kasih dan sayang.
19 April 2023

Komentar
Posting Komentar