On Children; Dinamika Ekspetasi Orang Tua

Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan diriku di masa depan ketika akhirnya aku memutuskan memiliki seorang anak nanti. Apakah aku juga punya harapan dan ekspetasi soal kehadiran mereka? Atau aku cukup hanya ingin mengasuhnya saja sebagai sesama manusia?

On Children adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh Wu Xiaole dengan begitu lugas dan teratur. Buku ini bercerita tentang seorang guru les yang mendeskripsikan pengalamannya mengajar di 9 rumah. Masing-masing rumah memiliki latar belakang dan kelas sosial yang berbeda-beda tapi, kupikir persoalannya sama, yaitu pola asuh orang tua dan ekspetasi masyarakat. Anak pada prinsipnya dilahirkan dari tubuh manusia yang berbeda dan kondisi lingkungan yang berbeda pula, tapi kenapa kita ingin membentuk mereka dengan mesin yang sama?

Di rumah ke-9 kita akan menemukan seorang Ibu yang menduplikasi metode belajar anak lain kepada anaknya sendiri tanpa mempertimbangkan variable atau diskusi dengan si anak (yang di dalam cerita ke sembilan ini adalah teman dari Wu Xiaole). Kemudian ketika si anak berhasil meraih prestasi dan masuk ke sekolah yang gemilang, semua orang tua bertanya kepada ibunya tentang metode mendidik yang selama ini ia gunakan. Para orang tua ingin meniru cara itu tanpa berdiskusi dengan anak mereka masing-masing.

Di sini, aku melihat metode tiruan / duplikasi yang dilakukan oleh orang tua, sekolah, sistem pendidikan, dan masyarakat pada umumnya. Kita suka sekali meniru sesuatu yang sudah ada hasilnya. Namun sialnya informasi yang didapatkan itu tidak dikembangkan untuk kemudian bisa diterapkan sesuai dengan kondisi, bakat, dan karakteristik anak. Ketika cara A berhasil diterapkan kepada seorang anak, bukan berarti itu akan berhasil untuk anak yang lain. Begitu juga dengan sistem pendidikan yang memaksakan metodenya kepada semua anak dengan cara yang sama. Sistem pendidikan betul-betul seperti pabrik. Kaku. Ini sangat bertolak belakang dengan manusia yang memiliki sifat cair.
Pendidikan ada bukan supaya anak mendapat nilai yang tinggi. Pendidikan ada supaya bakat setiap anak dapat berkembang hingga batasnya, dan supaya hasil akhirnya memperoleh pengakuan. (hlm 180)
Mengelola kelurga seperti mengelola perusahaan. Semua orang di dalamnya memiliki peran dan struktur organisasi untuk mencapai tujuan. Apa tujuan dari keluarga? Buku ini menggambarkannya dalam bentuk materil. Ketika keluarga terbentuk dan seorang anak lahir, anak tersebutlah yang menjadi produknya. Produk yang bernilai tentu saja produk yang memenuhi ekspetasi masyarakat pada umumnya. Padahal keluarga dibangun pada mulanya karena membicarakan soal cinta antara dua orang, tetapi ketika keluarga itu hadir, maka bentuknya berubah.

Beginilah rupa pendidikan yang aku lihat: menjadikan semua hal dalam hidup sebagai kewajiban; menafkahi keluarga adalah kewajiban, menikah setelah cukup umur adalah kewajiban, menjaga orang tua hingga mereka meninggal adalah kewajiban, berkorban demi anak adalah kewajiban, dan secara otomatis merawat orang tua yang lanjut usia adalah kewajiban anak. (hlm 248)

Ambisi-ambisi, pencapaian - pencapaian, dan mimpi-mimpi yang harus anak kejar adalah buah hasil ketidakpuasan orang tua mereka pada hidupnya sendiri. Hasil dari sistem masyarakat yang tidak berkompromi pada apa saja yang berbeda dari "biasanya". Ini seperti jalur pelampiasan dendam dari generasi ke generasi.

Menurut penulis, banyak orang tua di asia yang menganut sistem otoritatif dalam mendidik anak. Anak kehilangan kehadirannya sebagai seorang manusia. Anak dianggap tidak mandiri sehingga tidak punya hak untuk memiliki privasi ataupun suara. Padahal anak-anak dapat merasakan sesuatu. Rasa sakit dan cinta mereka nyata. Di usia anak hingga remaja adalah ketika manusia barangkali pertama kalinya dapat secara sadar merasakan semua perasaan itu. Misalnya jatuh cinta dan sakit hati. Dan kita tidak akan pernah lolos dari perasaan buruk maupun baik. Namun, persoalannya adalah darimana perasaan itu berasal?

Sebagai seseorang yang pernah menjadi seorang anak, tentu saja aku pernah mengalami hal serupa di beberapa cerita di buku ini. Related. Aku percaya hingga hari ini, perasaan cinta tidak akan beriringan dengan kekerasan selama perasaan dan ekspetasi itu menemukan media komunikasinya. Ini masalah kita, sulit membuka jalur komunikasi sejak relasi itu dibentuk.

Hal lain yang terus berulang dalam kumpulan cerpen ini adalah cerita yang didominasi oleh peran Ibu dan Anaknya saja. Sosok ayah kerapkali tidak hadir dalam pola pengasuhan anak. Padahal kehadiran ayah dalam pengasuhan anak juga penting. Kondisi ini dinamakan fatherless, yaitu kondisi dimana anak-anaknya kehilangan kehadiran ayah. Indonesia sendiri ada diperingkat ketiga sebagai fatherless country. Ini disebabkan TENTU SAJA OLEH BUDAYA PATRIARKI hehe.. dimana pola pengasuhan dibebankan kepada Ibu saja sedangkan Ayah bertindak sebagai pencari nafkah.

Meski begitu tidak semua cerita di dalam buku ini menerapkan pola asuh dan pola didik orang tua yang cenderung tidak tepat. Ada sebuah cerita yang menurut aku paling penting di sini. Di bagian tersebut digambarkan seorang anak yang memutus rantai toxic didikan orang tua yang pernah ia terima. Anak cenderung rela menderita untuk menyenangkan hati orang tuanya. Dalam hal ini, ketika Mouli memiliki anak setelah dijodohkan oleh orang tuanya, ia menyadari bahwa tidak seharusnya anaknya juga mengalami hal yang sama; mengikuti apa yang ibunya inginkan.

Mouli bisa saja memiliki hidup yang cemerlang andai saja ia memiliki kebebasan untuk memilih apa yang ingin dilakukannya. Tapi, orang tua selalu memandang bahwa cara hidup kita haruslah sama. Sistem tidak memberikan kita keleluasan dan kebebasan yang sistemik untuk mengasah bakat kita. Dan standar norma masyarakat kerap kali lahir agar semua orang sama menderitanya.

Buku ini mengingatkanku bahwa kita semua bermula dari perasaan cinta dan kemanusiaan. Anak dan orang tua seharusnya menjadi tim yang bekerja sama untuk saling mengisi hidup satu sama lain. Tempatkan anak di posisi yang setara dengan kita sebagai orang dewasa, maka tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi, hidup akan bekerja dengan semestinya.

Kita harus berhenti mengamini narasi bahwa untuk meraih kesuksesan harus melalui jalan derita yang panjang. Engga juga. Untuk menuju ke suatu tempat kita bisa memilih menggunakan kendaran dan jalan yang mana. Kita bisa menuju suatu tempat dengan perlahan sembari memproses segala pertumbuhan kita di waktu yang sama. Jika kita tidak bahagia, hati kita akan hampa, jika hatimu hampa semua hal tidak ada artinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup