Jurnal Harian
Hari ini jadwalku padat seperti lalu lintas Jakarta di sore hari. Ketika hari - hari seperti ini terjadi, aku selalu kewalahan hingga tidak sempat untuk duduk nyaman sambil makan. Mataku harus terus menatap orang yang berbeda, kepalaku harus terus berpikir dari satu hal ke hal lainnya, bibirku harus terus tersenyum, dan tubuhku harus terus menerus duduk dari meja ke meja.
Keragaman yang kutemui terkadang tidak berjalan menyenangkan. Dalam beberapa meja, aku kerap kali mengalami pelecehan seksual dari verbal hingga sentuhan. Bagi forum mungkin itu seru, menggoda perempuan muda dan friendly. Tapi bagiku, itu sangat berat. Aku harus mengontrol dan melindungi diri dalam waktu bersamaan. Respon yang aku berikan akan sangat berpengaruh pada interaksi selanjutnya. Bagaimana aku tetap bersikap diplomatis di tengah perasaan marah yang terus menyala. Bagaimana aku memastikan wajahku tetap memancarkan kehangatan meskipun sikapku mulai memaksa untuk dingin. Dalam urusan ini, aku memang terlatih. Tapi, aku punya batas.
Malam mengucapkan salam. Matahari terpaksa tidur karena sudah waktunya. Aku akhirnya bertemu dengan sekelompok orang yang hangat dan menyenangkan. Setidaknya ada yang aku syukuri hari ini. Sore itu kami membicarakan banyak hal. Kami bicara soal pemberdayaan, literasi, masyarakat, masa depan, hingga gagasan untuk melakukan sesuatu yang dapat berkelanjutan.
Dalam beberapa bulan ini, secara misterius, aku terus terhubung dengan berbagai cerita yang berkaitan dengan kegiatan di desa dan di kampung. Seorang teman, berencana untuk menghidupkan komunitasnya yang telah lama tidur. Aku bertanya, bagaimana itu akan dihidupkan? Dia bicara soal temuan yang terjadi di sebuah desa. Desa tersebut memiliki tingkat perceraian tinggi dengan presentase usia suami istri yang relatif muda. Persoalannya adalah dengan perceraian itu, bagaimana nasib perempuan dan laki-laki muda ini selanjutnya? Dan apa yang kerapkali menyebabkan pernikahan dini terus terjadi. Berangkat dari sini, ia dan teman-temannya akan fokus melakukan pemberdayaan di desa tersebut sesuai dengan identifikasi masalah yang mereka catat.
Kemudian teman lainnya ikut berbagi. Saat ini ia sedang fokus mengedukasi sebuah perkampungan. Dia fokus membina para orang tua muda untuk memahami apa itu stunting. Beberapa temuan yang sangat mengkhawatirkan bagi kita adalah:
1. Para orang tua di desa tersebut percaya pada mitos-mitos yang bertolak belakang dengan sains. Misalnya berkaitan dengan MPASI. Mereka percaya bahwa ketika bayi usia 6 bulan sampai dengan 2 tahun tidak boleh diberi protein dan sayur-sayuran karena bisa keracunan. Namun idealnya tidak begitu.
2. Posyandu yang tidak mengedukasi. Pelayanan di posyandu desa tersebut cenderung tidak membantu sama sekali. Mereka hanya menghakimi para ibu ketika berat dan tinggi anaknya tidak ideal dengan usia sang anak. Misalnya dengan mengatakan "kasih makan dong anaknya." Padahal, Posyandu sendiri berfungsi sebagai wadah untuk mengedukasi dan melakukan penyuluhan mengenai pola asuh anak agar anak tumbuh sehat, cerdas, aktif, dan tanggap. Tapi, yang mereka lakukan hanya mengukur, menimbang, lalu berbagi susu yang hanya bisa dikonsumsi untuk sehari. Lalu tanpa edukasi selanjutnya bagaimana?
3. Akses terhadap kesehatan mental para Ibu. Kita semua tahu bahwa anak butuh orang tua yang bahagia. Sedikitnya kesadaran mengenai kesehatan mental dapat bepengaruh terhadap pola asuh. Teman saya, melakukan pendekatan personal kepada beberapa ibu yang mau terbuka terhadap emosinya dengan metode tertentu.
4. Akses perlindungan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pernikahan dini kerapkali menjadi faktor utama terjadinya stunting. Selain itu, pernikahan dini juga menjadi faktor yang mendorong berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Namun, dalam beberapa kasus yang ditemukan, korban yang didominasi oleh perempuan tidak dapat mengakses perlindungan hukum atas masalah ini.
Aku tahu ini bukan temuan baru, tapi aku menyarankan teman-teman untuk membuat jurnal berkaitan dengan temuan - temuan ini agar terdokumentasikan dan dapat dibicarakan secara lebih luas. Gagasan kerap hadir dari fenomena yang absolut di hadapan kita. Dengan temuan ini, harapan untuk melahirkan masyarakat yang lebih sadar dan teredukasi menjadi sangat mungkin untuk dapat dilakukan. Kenapa? Karena kita sudah mencatatnya.
Aku tahu aku bisa menuliskan fenomena ini dengan tambahan data dan analisis yang lebih baik, tapi, karena ini hanya jurnal harian, jadi aku cukup mencatatnya agar ingatan tidak mengabur dan hilang. Tak ada gagasan yang lebih baik selain apabila gagasan itu direalisasikan dan sangat relevan. Mungkin nyala cahayanya tidak akan seterang langit siang hari, tapi minimal, kerja-kerja optimis harus tetap dilakukan agar daya harapan tidak hilang begitu saja tanpa berbuat apa-apa.
13 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar