Apa yang Paling Penting dalam Sebuah Hubungan?
Siang itu matahari duduk di antara kami. Angin berlarian merebut semua yang ada di atas meja, menarik segala sesuatu yang aku pakai di atas tubuhku. Cuaca yang panas tapi, juga tidak membuatku cemas. Cuaca seperti ini sangat jarang terjadi. Terik, hangat, dan tenang. Tapi, itu yang tidak dirasakan oleh seorang teman di hadapanku. Dia memintaku duduk dan mendengarkannya hampir 90 menit, seperti sedang menonton film.
"Dia minta cerai, Dia gak mau lagi rujuk sama gue." Katanya dengan ringan dan tenang.
Di usiaku ini, aku sudah terbiasa mendengar berbagai cerita dalam rumah tangga teman-temanku. Ada yang mampu mengatasinya, tapi lebih sering terlihat begitu sulit dan berat. Yang kutahu, aku dan teman-temanku masih muda dan tidak ada yang mengajarkan kami bagaimana caranya membangun hidup berdua dengan orang lain. Kami hanya tahu dari apa yang kami lihat di dalam keluarga kami masing-masing, tentu saja dibumbui nilai-nilai optimisme bahwa semua hal dalam hidup butuh proses, termasuk urusan pernikahan.
Aku tahu ini berat baginya, sebab pada dasarnya sangat sulit melabuhkan hati kepada satu orang dan mencintai dia sebagai bagian dari tubuh kita. Meski begitu, meski temanku mengatakan bahwa telah menyesal bersikap seperti itu, ia tetap merasa bahwa keinginan pasangannya bercerai, itu bukan murni karena dirinya sebab pertengkaran yang sudah sering terjadi. Baginya, ini adalah ujian pernikahan karena mereka sudah sangat mampu secara ekonomi, maka Tuhan memberi ujian dalam bentuk lain.
Aku jadi ingat kata temanku yang mengatakan, kalau kita punya uang, semua hal jadi masalah. Tapi, kalau kita tidak punya uang, hanya uanglah yang jadi masalahnya. Kalimat itu terasa problematis. Uang bukan satu-satunya masalah. Itu hanya salah satunya saja. Yang menjadi masalah paling besar dan dominan adalah soal waktu.
Maka, siang itu dengan segelas kopi dingin di hadapanku, aku bertanya, "selama ini, lo punya kesulitan buat ketemu dan pergi berdua gak? Kayak ngobrol, liburan, atau saling cerita alias deep talk?" Dia menjawab, "ya jarang sih, karena rutinitas kita beda. Waktu berdua hanya ada di hari minggu."
Ada jarak yang jauh yang mungkin tidak disadari oleh temanku dan tentu saja kita semua. Lamanya waktu yang bisa kita habiskan dengan orang lain mampu mengubah segalanya. Hal serupa dikatakan oleh sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationship, bahwa waktu adalah segalanya. Semakin lama kamu menghabiskan waktu dengan seseorang, semakin besar kemungkinan kamu untuk mengembangkan ikatan dekat dengannya.
Meskipun kita sudah mencintainya bukan berarti itu cukup. Kita selalu membutuhkan waktu bersama untuk tumbuh dan memahami perubahan orang lain. Karena barangkali kamu mencintai dia yang pada 2019 kamu temui, tapi bukan berarti kamu akan mencintai dia yang kamu lihat pada tahun 2022. Ada jarak 3 tahun diantara kita, maksudku kamu dan pasanganmu atau temanmu, yang pasti akan membuat hubungan kita terasa berbeda.
Kita selalu merasa bahwa orang itu selalu sama, tapi nyatanya engga. Hanya karena kita sudah menikahinya, atau menjadi kekasihnya, atau merupakan sahabat baiknya, bukan berarti kita akan selalu cocok dengan dirinya. Hal baru dalam diri seseorang adalah hal penting yang engga kita sadari sehingga kita melewatkan 1,095 hari atau 26, 280 jam untuk memiliki waktu berbicara dan membersamai orang lain dalam pertumbuhannya. Sebab seseorang selalu bertumbuh dan menjadikannya berbeda, bergantung pada apa yang dialaminya, diminatinya, disukainya, dibencinya, dan seterusnya. Begitu pula dengan dirimu. Cara pandangmu tidak mungkin selalu sama dalam semua hal.
Jeffrey Hall, seorang profesor komunikasi di University of Kansas bilang dalam risetnya, bahwa butuh 200 jam untuk dapat berteman baik dengan orang lain. Itupun belum menjadi jaminan bahwa kamu akan memiliki hubungan seperti itu dengan orang lain. Semua bergantung pada kualitas waktu yang kamu habiskan. Rumitkan? Berhubungan dengan orang lain adalah proses memahaminya seumur hidup, proses mencintainya seumur hidup. Sebuah hal yang sulit tapi bukan mustahil kita lakukan. Waktu adalah kunci terpenting bagi kualitas hubungamu. Di luar semua faktor yang bisa menyertai sebuah perpisahan, kita selalu kecolongan soal waktu sehingga terlalu banyak yang kita lewatkan untuk akhirnya dapat memperbaiki sesuatu.
Seperti dikutip dalam laman The Independent, Jeffrey Hall mengatakan, "jelas bahwa banyak orang dewasa tidak merasa mereka punya banyak waktu, tetapi hubungan ini tidak akan berkembang hanya dengan menginginkannya. Kamu harus memprioritaskan waktu dengan orang-orang."
Bagaimana? Apakah ini sudah cukup mengubah pandanganmu?
Komentar
Posting Komentar