Bukan Ulasan Broker, Tapi Aku adalah Ceritanya
Sabtu lalu, aku nonton Broker. Film yang diproyeksikan sebagai film terbaik setelah Parasite. Sebagai penggemar film Parasite, aku buru-buru pergi ke bioskop untuk mendapatkan tempat duduk secepat mungkin sebelum film Broker turun layar. Sangat mungkin film ini akan cepat turun layar di Indonesia, terutama di Karawang mengingat jenis film dan waktu tayangnya yang bersamaan dengan film yang lebih popular lainnya.
Malam itu, aku duduk dengan perasaan yang sedih, meskipun filmnya belum mulai sama sekali. Aku duduk menjaga jarak dengan penonton lainnya dan mengelola emosiku. Entah marah, sedih, kecewa, atau merasa gembira, juga khawatir di waktu yang sama atas diriku sendiri hari itu. Tapi, seperti biasa aku akan bertahan sampai aku bisa melihat segalanya dengan jernih dan dengan cara yang lebih baik.
Film dimulai dengan adegan seorang perempuan muda yang memeluk bayinya di bawah hujan, lalu meninggalkannya dengan perasaan cemas di lantai Gereja. Seorang polisi yang sedang melakukan penyelidikan atas dugaan perdagangan manusia menatap sinis kepada perempuan itu dari balik kaca mobilnya yang jauh, dan berkata dengan dingin "jika tidak ingin merawatnya, kenapa malah dilahirkan?"
Merekam film Broker di kepala, membuatku merefleksikan kembali apa saja yang terjadi pada hari-hariku jauh sebelum hari ini. Malam itu, aku langsung mengucapkan permohonan maaf pada bayi yang sedang dikandung oleh kakak dari temanku. Aku merasa bersalah karena pernah berpikir bahwa "kasihan jika bayi itu dilahirkan sedangkan orang tuanya belum siap dengan ini.", atau, "kasihan bayi itu, aku khawatir dengan kehidupannya nanti."
Ketimbang berterima kasih karena bayi itu akan hadir, aku malah mengasihaninya. Aku malah mengkhawatirkannya, aku malah skeptis akan orang tuanya. Saat itu juga, aku teringat kepada temanku yang pernah berkata kepada Ibunya, "emang aku pernah minta dilahirkan?". Dia mengatakan itu kepada ibunya ketika mereka bertengkar. Di sore yang panas, beberapa hari setelah pertengkaran itu, dia bercerita segalanya kepadaku. Aku mendengarkannya, dia menaikan nada suaranya, lalu menurunkannya pada saat jeda. Kemudia dia kembali menaikan suaranya dan aku hanya diam.
Dulu, jauh sebelum hari ini, aku pernah merasa begitu. Tidak perlulah dilahirkan, kalau akan menderita begini. Aku juga pernah berpikir, "lagi pula aku tidak pernah meminta kehidupan ini. Aku tidak minta untuk dilahirkan.", aku selalu marah sepanjang hidupku. Dan aku melihat diriku yang dulu, di mata temanku itu.
Broker membawaku kembali bertanya, "kenapa ketimbang mensyukuri kegembiraan dalam kehidupan kita, kita lebih memilih untuk membencinya?", "kenapa ketimbang berterima kasih atas kehadiran orang lain di hidup kita, kita malah memaki dan mendorongnya menjauh?". Kenapa kita membuat segalanya menjadi begitu sulit untuk dijalani?
Semua orang memiliki peran atas kehidupan dan hubungan mereka masing-masing. Bukan hanya aku saja, kamu saja, mereka saja, dia saja, tapi kita semua berperan di sana. Terlalu angkuh rasanya jika kita berpikir bahwa hubungan dan hidup ini hanya milik kita, padahal milik semua orang. Begitu juga kelahiran seorang anak, bukan hanya menjadi urusan satu orang saja, atau orang tuanya saja, tapi kita juga yang ada di hadapannya.
Menonton film ini, membuat perasaanku menjadi lebih ringan, karena film ini membantuku untuk melihat dan memahami bagaimana kondisi orang tua kita ketika membuat keputusan yang berkaitan dengan anak-anaknya. Bagaimana akhirnya kita menyadari bahwa keputusan untuk melahirkan seorang anak itu sulit, apalagi merawatnya. Dari sini, aku mulai bisa untuk memaafkan orang tuaku. Aku membuka peluang itu. Aku membuka hatiku seluas-luasnya atas segala hal yang terjadi dalam hidupku.
Sebetulnya aku ingin mengulas soal proses adopsi yang merepotkan di negara-negara Asia, termasuk Korea dan Indonesia. Aku juga ingin menyoroti kuasa perempuan atas tubuhnya sendiri, aku ingin menarasikan bagaimana standar moralitas dan keluarga yang ada di masyarakat saat ini, termasuk sistem, dan peradilannya. Aku juga ingin memuji sinematografi, plot cerita, dan sutradara di film ini, tapi aku lebih ingin mengungkapkan pengalaman yang kudapat dari sana. Rasa empati yang menular dari layar ke dalam tubuhku hingga lukanya mampu ia rawat.
Dan untuk pertama kalinya aku merasa bersyukur karena diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar