Suara yang Mewakili 'Kami'

Mengapa harus merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena kamu dianggap mendekati manusia 'ideal'? Penilaian seperti itu muncul berkat hadirnya standar-standar yang dilahirkan para kapitalis untuk kemudian menjadikan mereka kaya raya dan kita kecanduan akan hal itu -kecanduan membuat mereka yang kaya semakin kaya. Baiklah, jika membahas soal ini akan panjang dan saya jelas malas menulisnya sekarang. Jadi, ini mengenai buku yang baru selesai saya baca. Sebuah cara untuk memberikan sudut pandang dari orang-orang yang masih saja mengalami diskriminasi akibat adanya penilaian ideal yang kemudian menganggap bahwa 'harusnya' semua orang 'begitu'.

Kenyataannya, perbedaan itu ada. Dan persoalannya sekarang adalah, mampukah kita bisa berempati kepada orang lain?

Begitulah kira-kira suara yang coba dikeluarkan oleh Angie Thomas. Melalui buku The Hate U Give, penulis menyampaikan bahwa setiap hidup seseorang adalah penting. Kita semua terbelenggu oleh jeratan rasisme selama bertahun-tahun lamanya. Amerika memiliki sejarah panjang dan tingkat rasisme yang tinggi. Meskipun pada tahun 1964 melalui Martin Luther King Jr. dan Lyndon Johnson menciptakan kesetaraan antara warga kulit hitam dan warga kulit putih, tetapi kenyataan tindakan-tindakan diskriminasi masih terjadi bahkan ketika Obama dinilai sebagai tanda berakhirnya rasisme tapi mungkin sebenarnya tidak pernah terjadi.

Buku ini terinspirasi dari kejadian yang menimpa Oscar Grant di malam pergantian tahun 2009. Oscar Grant harus berurusan dengan petugas kepolisian di Oakland, California, karena terlibat pekelahian di atas kereta. Petugas kepolisian setempat berusaha mengamankan Oscar Grant yang tidak bersenjata dan beberapa penumpang di peron stasiun BART. Dalam video yang berdurasi kurang dari 2 menit diunggah oleh penumpang kereta yang sedang transit menunjukan bahwa Oscar dan salah seorang petugas beradu mulut beberapa saat, kemudian Oscar Grand ditembak dari belakang. Kejadian itu membuat geram warga Amerika Serikat yang menuntut keadilan ketika Pengadilan Tinggi setempat memberikan vonis tak bersalah kepada petugas yang menembak.

"Starr Carter, gadis kulit hitam berusia 16 tahun menjadi satu-satunya saksi dalam peristiwa penembakan sahabatnya, Khalil, yang pada saat itu tidak bersenjata oleh seorang petugas polisi. Peristiwa tersebut membuat Starr takut dan mengalami dilema untuk tetap diam karena takut dan trauma dengan ancaman dan dijauhi oleh teman-teman sekolahnya yang sebagian besar orang kulit putih atau lantang berbicara untuk menunjukan ketidakadilan yang dialami Khalil."

Buku ini membawa sudut pandang orang kulit hitam yang selama ini didiskriminasi. Aroma lingkungan mereka dideskripsika dengan jelas oleh Thomas, seperti keseharian mereka, apa yang dialami dan terjadi di sana, kemiskinan yang begitu melekat, dan kesempatan memperoleh pendidikan dan lingkungan hidup yang 'layak' untuk anak-anak sangat-sangat terbatas.

Narasi yang dibangun oleh gadis remaja berusia 16 tahun terasa personal dan alami. Hal tersebut ditunjukan sepanjang buku ini tentang bagaimana tokoh utama menanggapi hal-hal yang terjadi di lingkungan dan konflik psikologi yang dialaminya akibat rasialisme yang masih saja terjadi di tengah-tengah kita. Selain itu, pada bagian-bagian tertentu digambarkan dengan jenaka oleh penulis, sehingga buku dengan tebal lebih dari 400 halaman ini bisa dinikmati sampai akhir. Alurnya maju dan dibagi ke dalam 5 bagian, yaitu saat kejadian hingga 13 minggu sesudah kejadian (saat putusan) sehingga menjadikan ceritanya begitu intens.

Penulis menggambarkan hubungan antar tokoh melalui kisah masa lalu yang diangkat dalam alur cerita. Sehingga, menimbulkan keterkaitan yang erat antar tokoh di dalam cerita. Semuanya menjadi begitu penting diingat. Meskipun isu utama yang diangkat adalah rasialisme, diskriminasi, dan segala bentuk intoleransi, yang merupakan fakta hari ini, tapi tidak melupakan perannya sebagai novel remaja. Starr masih memiliki kehidupan lain. Ia memiliki pacar bernama Chris yang begitu manis layaknya remaja. Selain itu, Starr memiliki sahabat-sahabat di sekolahnya dan layaknya remaja pada umumnya, mereka suka membicarakan hal-hal yang mereka suka, memiliki masalah emosi, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama.

Saya sangat mengapresiasi Thomas dan karyanya yang mampu membawa rasa cinta terhadap kemanusiaan, dan yang paling terpenting adalah rasa empati yang coba disampaikan oleh penulis. Gaya bercerita yang dituturkan Thomas sangat cocok untuk pembaca muda saat ini. Mungkin saya akan terpikir mengadakan diskusi dengan teman-teman saya terkait buku ini, sebab rasisme tidak hanya terjadi di Amerika tetapi terjadi di semua belahan dunia, termasuk Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup