Berada di dalam Pola yang Tidak Aman
Tahun 1989, Abah Emha sudah menulis era peradaban manusia. Menurutnya saat ini Indonesia sedang berada pada masa industrialisasi yang disebut juga "gelombang kedua", yang diartikan secara sosiologis adalah kesiapan memasuki pola-pola organisasi modern, rasionalitas, profesionalitas, penataan sosial kemasyarakatan nontradisional, serta kesediaan untuk menjadi "masyarakat universal". Tetapi pada kenyataannya adalah masyarakat Indonesia menurut Emha penuh dengan keragu-raguan dalam menentukan wajah sejarahnya sendiri, sebab mentalitas tradisional masyarakat masih tinggi, kita masih gamang berintegrasi terhadap pola organisasi masyarakat modern, rasionalitas kita masih aneh, profesionalitas kita masih canggung, sementara tatanan sosial masyarakat kita masih di persimpangan.
Iya memang benar. Saya mengakui keragu-raguan kita dalam menghadapi peralihan era peradaban dunia. Dunia ini akan mengalami tiga gelombang peradaban. Gelombang pertama adalah peradaban pertanian, yang pada saat memasuki 'gelombang kedua' dimodernisasi menjadi industri pertanian, kemudian memasuki 'gelombang ketiga' adalah revolusi peradaban yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Namun kita selalu ragu-ragu dan memilih untuk mempertahankan tradisionalitas kita tetapi sudah terjebak dengan pola konsumtif dan glamor budaya.
Kita memang ragu atau bahkan takut untuk melangkah. Masa peralihan ini membuat kita semua harus bertengkar. Saling memperkuat barisan dan membunuh barisan yang lain. Kita tidak bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan negoisasi. Segala sesuatunya begitu terburu-buru atau sembunyi-sembunyi diputuskan. Kita condong sulit memberikan penjelasan mengenai apa yang sedang kita lakukan kepada orang lain, itulah menjadi salah satu pola rasionalitas yang masih aneh dan canggung. Semua persoalan diperjuangan untuk sebuah alasan yang tidak masuk akal dan jauh dari kata 'aman'.
Kita memang ragu atau bahkan takut untuk melangkah. Masa peralihan ini membuat kita semua harus bertengkar. Saling memperkuat barisan dan membunuh barisan yang lain. Kita tidak bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan negoisasi. Segala sesuatunya begitu terburu-buru atau sembunyi-sembunyi diputuskan. Kita condong sulit memberikan penjelasan mengenai apa yang sedang kita lakukan kepada orang lain, itulah menjadi salah satu pola rasionalitas yang masih aneh dan canggung. Semua persoalan diperjuangan untuk sebuah alasan yang tidak masuk akal dan jauh dari kata 'aman'.
Iya, saya ragu-ragu dalam menghadapi pola hidup manusia kita saat ini. Manusia cenderung ragu untuk melakukan sesuatu dengan benar. Tapi siapa yang peduli soal benar atau salah. Baik atau buruk. Sama saja. Itu hanya tentang bagaimana cara kita menilai. Kebencian, amarah, rasa sayang, bahkan empati datang silih berganti tanpa kenal lelah. Mereka hanya perasaan yang butuh raga untuk dikacaukan perilakunya. Dikacaukan pikirannya. Dan kita dilema dengan keberadaan mereka, sehingga datanglah galau yang tiada henti-hentinya yang kemudian menciptakan perasaan-perasaan tidak mengenakan lainnya dan mewarnai peradaban.
Saya selalu takut untuk kehilangan diri saya sendiri. Saya takut kecewa karena diri saya yang tidak mampu melakukan segala sesuatu dengan benar. Kita, dan juga saya, kemudian takut untuk berterus terang dan tidak diterima oleh kebanyakan orang. Manusia lebih suka menutupi hal-hal yang baginya tidak mengenakan dan kemudian menggantinya dengan kebohongan-kebohongan yang lain.
Saya merasa sangat kelelahan menuliskan hal ini. Kita bisa saja menjadi tidak percaya pada diri sendiri dan ingin menjalani hidup yang dimiliki oleh orang lain. Kita merebut hidup orang lain dan memaksakan untuk merawat 'kehidupan' yang bukan untuk kita. Pernahkah kamu berpikir bahwa kamu adalah bagian dari manusia-manusia yang kuceritakan di atas? Maksudku, kamu adalah pembenci yang sangat teramat sehingga kamu melupakan hal yang baik.
Tapi, tidak perlu kecewa dan bereaksi berlebihan. Toh, apa pun yang kamu lakukan tidak akan ada pengaruhnya. Kamu mau membela apa dan siapa pun dunia akan berjalan dengan sendirinya. Kita hanya perlu berhati-hati agar tidak melukai orang lain. Menghilangkan prasangka-prasangka yang membuat kamu bersedih nantinya.
Jangan salahkan orang lain. Jangan salah paham atas hidup yang kau jalani sekarang. Saya tidak mengatakan ini untuk menasehati orang yang membaca ini, tapi untuk diri saya sendiri. Saya khawatir jika suatu saat dunia ini meminta untuk dikembalikan lagi terhadap apa-apa saja yang sudah kita rampas, lalu apa yang bisa kita perbuat? Bagaimana caranya kita membayar semua makian yang terlontar dan terbenam dalam pikiran? Bagaimana caranya mengobati hati orang lain yang kau acuhkan hidupnya hanya demi pikiran yang menurutmu benar saja? Bagaimana jika selama ini kita salah?
Berada di mana pun kita adalah sama saja. Jangan menjadi orang yang berlebih-lebihan memandang sesuatu hal. Kamu tahu bahwa di dunia ini tidak ada keputusan yang adil dan bijaksana. Dunia ini hanya penuh dengan keragu-raguan sebab terlalu banyak rasa kecewa yang terbang masuk melalui hidung kita, hidup bersamanya, selamanya.
Hiduplah dengan terus berjalan dan beradaptasi.
Komentar
Posting Komentar