Betapa Ekstremnya Naik Kereta
![]() |
| sumber PT KAI |
Dulu, saya adalah anak muda yang hidup dengan penuh kecemasan. Karena saya tahu bahwa dunia ini memang tidak begitu baik. Saya sempat berpikir kenapa kita harus menjalani hidup yang sebegini mengerikannya. Orang-orang berpeluang melakukan hal yang buruk dan juga baik. Ketika pertama kali saya menjumpai salah satu buku karangan Karl May, saya langsung menyepakati bahwa dunia ini penuh dengan prasangka dan keegoisan.
Seorang pengarang asal Jepang, Natsume Soseki, pernah mengatakan begini di dalam bukunya bahwa semua orang merasa Superior dengan caranya masing-masing. Lalu, dalam pemikiran si tokoh dalam buku Botchan, penulis mengatakan, sebagian besar masyarakat malah mendorongmu bertindak jahat. Pada kesempatan-kesempatan langka, ketika mereka melihat seseorang berbicara terus terang dan jujur, mereka meremehkan dan menyebutnya hijau, tidak lebih dari anak-anak. Anehnya, pernyataan itu selalu terjadi. Rasanya sulit sekali bagi kita untuk melapangkan diri, dan memberi orang lain ruang. Kita terlalu buta untuk melihat dan terlalu tuli untuk mendengar, terlalu dingin untuk merasa.
Ini sangat saya rasakan dalam perjalanan saya, minggu lalu ke Jakarta. Jakarta, saya terlalu sering datang ke Ibu Kota ini. Terlalu banyak orang di sana. Sesak. Menyedihkan. Untuk menghemat perjalanan dan lebih mudah, saya selalu menumpang KRL untuk menuju suatu tempat. Di tengah perjalanan saya terlalu konsentrasi dalam diskusi antara saya dengan seorang Owner Start Up sehingga stasiun dimana seharusnya saya berhenti terlewat. Akhirnya, di stasiun selanjutnya saya turun dan mengambil kereta yang menuju ke arah sebaliknya. Saya menunggu KRL lewat bersama ratusan orang lainnya. Stasiun itu memang dikenal menjadi stasiun yang paling banyak penumpangnya. Namun mayoritas adalah para perempuan, dari muda hingga sudah tua. Hal itu disebabkan, mungkin karena stasiun itu dekat dengan pusat grosir terbesar.
Sekitar 15 menit saya menunggu, hujan pun turun. Kenapa hujan turun? Agar kepala kita tidak panas. Katanya, dengan mendengarkan nada-nada yang dihasilkan dari aktivitas air membuat pikiran kita menjadi tenang. Katanya. Semua ocehan orang-orang di sini teredam oleh bunyian hujan. Hujan memang tabah. Tapi, seorang anak menangis, usianya 2 atau 3 tahun. Mungkin anak itu kepanasan. Dan Ibunya berusaha untuk menghentikan tangisan itu dengan cara mengancam si anak. Aku tersenyum karena itu memuakan. Memang jika seorang anak menangis, dunia akan hancur? Kenapa harus sebegitu marahnya. Kata Ibu saya, anak kecil nakal itu ya wajar, anak kecil menangis karena hal sepele juga wajar. Toh, tidak ada satu pun dari kita yang suka kepanasankan?
Kereta pun tiba. Pintu otomatis dibuka. Tanpa aba-aba dan saling membuka ruang, semua orang berlari masuk ke dalam kereta tanpa mengindahkan wanita hamil, para lansia, dan penumpang yang hendak turun. Aturan ketika akan menaiki KRL adalah mendahulukan penumpang yang turun. Namun, hari itu saya menyaksikannya dengan sangat kecewa betapa memalukannya orang-orang ini. Ada yang terinjak, ada juga yang terjepit. Kemudian, para korban dari orang-orang ekstrem ini mengeluh kesakitan. Kereta pun berjalan begitu saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Semua orang yang di dalam ruangan saling merapihkan diri mereka yang berantakan akibat aksi tadi. Aku berdiri di depan pintu otomatis dan mengutuk mereka semua. Ada yang kemudian tertawa atas kejadian tadi, ada juga yang memakinya. Yang memaki ini lucu, dan tak tahu malu, padahal dia merupakan salah satu penggiat aktivitas kerusuhan itu. Ada yang tertawa dan sepertinya otaknya tertinggal di rumah.
Hal itu membuatku sangat kesal. Meskipun ini memang kejadian yang sering terjadi. Tapi aku kesal mengapa untuk hal kecil saja, semua orang tidak mengerti. Aku tiba di statsiun tujuanku tanpa butuh waktu lama, aku dijemput oleh seorang teman. Kami berangkat menuju sebuah perusahaan Start Up.
Sore harinya, kami pulang dan menumpang kereta api lokal. Kami mendapatkan tiket untuk keberangkatan lebih awal. Dan harus membayarnya lebih mahal karena seorang calo menjualnya kepada kami.Sudahlah yang ini lupakan saja. Kemudian kami bersiap karena kereta sudah datang. Kereta berjalan pelan di hadapan saya dan di hadapan para ratusan orang lainnya, berjajar dari ujung hingga ujung. Panjang barisannya persis sama dengan panjang kereta. Belum juga waktunya kereta berhenti dengan nyaman, orang-orang langsung lompat ke dalam kereta. Kita tahu bahwa itu berbahaya, tapi ada yang melakukannya. Kereta berhenti dan kejadian serupa seperti di KRL tadi terulang. Bedanya saat menaiki kereta api lokal kita tahus bersusah payah mengangkat tubuh kita hingga mencapai pintu masuk gerbong, karena jarak antara tanah dan pintu itu cukup tinggi. Meski begitu manusia itu memang sialan. Tetap saja berlari dan saling mendorong satu sama lain hanya karena ingin masuk lebih dulu. Tujuannya pasti untuk memperoleh tempat duduk. Hanya karena ingin duduk dan kau mendorong orang lain.
Saat itu, ada seorang pempuan yang hampir jatuh ke rel karena terdorong oleh kerumunan orang. Saya dan teman saya memberinya ruang untuk masuk duluan, karena sepertinya fisiknya tidak terlalu kuat. Kemudian dari sisi kiri teman saya, muncul seorang Ibu yang berseragam PNS, menerobos tangan teman saya yang sengaja memberi ruang kepada perempuan tadi. Lalu Ibu tadi mencubit kaki perempuan yang sedang mengangkat badannya untuk masuk ke dalam kereta dan menyikutnya hingga nyaris terjatuh. Setelah menyikut si perempuan, Ibu berhasil naik ke dalam kereta. Dan akibat ulah menyebalkannya itu, tas miliknya jatuh ke luar gerbong. Tapi tetap saja tas itu diambilkan dan diberikan kepada si Ibu.
Kejadian itu mengagetkan saya hingga kondisi sudah kondusif dan kereta sudah berjalan. Ya, memang benar ada yang berdiri dan ada yang duduk. Itu bukan hal yang aneh walaupun semua orang membeli tiket. Meski begitu pada akhirnya kita akan berbagi tempat duduk dengan orang lain hingga kemudian malah saling menjepit. Akibat kejadian itu, ada perempuan dewasa yang kehilangan telepon genggamnya. Lalu ada yang terluka karena terinjak saat naik. Dan pasti perempuan muda tadi -yang entah berada di gerbong mana- juga kesakitan karena peristiwa itu.
Orang-orang memang sudah gila. Entah karena apa. Yang jelas negara ini terlalu banyak masalah. Dan orang-orangnya terlalu sering berulah. Kita tidak tahu lagi bagaimana caranya memberi ruang pada orang lain. Tidak ada yang lebih tidak bisa dipercaya dari manusia. Dan tidak ada yang lebih tidak pasti dari manusia. Maksudku dengan segala ketidak mungkinan itu, kita jalani dengan baik dan santai saja. Masa kau mau membunuh orang atau saling membunuh hanya karena ingin memperoleh tempat duduk. Kalau gitu beli saja kereta sendiri.

Komentar
Posting Komentar