Mengenai Dia dan Ketidak Jelasan Cerita Ini

Kertas putih di hadapanku masih tetap putih. Pena hitam yang dihadiahkan mantan pacarku tiga bulan lalu masih erat di tangan. Sudah satu jam aku duduk di meja kerjaku dan belum menuliskan apa-apa. Padahal setan-setan di dalam pikiranku sudah mengantri di pintu keluar dan ingin segera melayang bebas di langit-langit kamarku.

Saat di jalan menuju pulang dari Cafe Nona, terbesit ide untuk menulis. Dan ternyata itu hanya harapanku saja. Buktinya saat aku tiba di rumah dan langsung duduk di kursi ini, tidak ada satu kata pun yang dapat kutulis. Yang kulakukan hanya memandang kertas putih itu dan yang bekerja hanyalah imajinasiku. Tanganku diam di tempatnya. Menikmati sentuhan dingin tubuh pena yang kugenggam.

Tiga bulan lalu dia memberikan pena ini di pangkuan tanganku. Dia menatapku dengan hangat, diiringi dengan senyuman manisnya yang selalu membuat hatiku tenang. Hari itu, aku baru saja memenuhi undangan sebagai pembicara untuk komunitas yang berisi para perempuan yang asik ngeblog dan membaca tulisan di halamanku. Dia menjemputku pukul sembilan malam usai kegiatan Bincang Blogger itu selesai. Hari itu aku tidak membawa mobilku, karena rasanya malas sekali meyetir. Jadi, aku putuskan untuk menggunakan taksi.

"Apakah perempuan memang seperti itu?" Tanyanya tiba-tiba saat kami di dalam perjalanan menuju rumahku. "Sibuk demi sebuah eksistensi diri sebagai bukti emansipasi."

"Kamu nyindirin aku?" 

"Engga, aku cuma nanya."

"Aku engga peduli soal emansipasi, feminisme atau isu-isu terkait seputaran perempuan. Kita hanya harus menyederhanakan hal-hal yang rumit ini."

Dia hanya diam tak memberi tanggapan pada pernyataanku barusan. Aku merebahkan badanku di kursi mobilnya, menutup mata dan mencoba untuk tidak memikirkan apa-apa.

Waktu terus berjalan sekalipun aku diam dan tak bernapas. Waktu tidak pernah memberi ampun kepada mereka yang hanya ingin terlelap dan tak ingin melakukan apa-apa. Waktu memang tidak pernah memberikan kita kesempatan untuk berpikir ulang ketika memutuskan untuk tetap hidup atau menyudahi cerita ini saja. Dan waktu juga terlelap bersama bayang-bayang masa lalu yang selalu berkecamuk di dalam pikiranku.

"Tulisan kamu memang begitu dalam. Dan aku selalu menyukainya, sekalipun itu adalah sebuah bentuk kebencian. Sekalipun aku terkadang tidak sependapat denganmu." Katanya tiba-tiba. Aku membuka mata dan menatap wajahnya yang sudah begitu dekat dengan wajahku.

Ketika itu aku merasakan lagi saat pertama kali aku memutuskan untuk jatuh cinta padanya. Seorang laki-laki yang berpikir realistis dan praktis ini, sekalipun dia begitu keras kepala namun itulah yang membuatku selalu menginginkannya. Menurut teman-temanku lelaki ini sikapnya dingin, meskipun dia memiliki wajah yang menarik dan mata yang indah tetapi dia bukan lelaki yang suka menjalin hubungan dengan banyak wanita. Bagiku yang selalu menarik dari lelaki ini adalah bahwa aku tidak pernah bisa menebak pikirannya.

"Menulislah apapun yang kamu mau." Katanya sembari meyimpan kotak yang berisi pena di pangkuanku.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku memutuskan untuk diam dan mentapnya. Menatap wajahnya. Aku sesak napas.

Dan satu bulan yang lalu, aku memutuskan hubungan dengannya. Dan lukanya selalu kuendapkan. Aku menikmatinya. Dan aku mencintainya melalui apapun yang tanganku tulis. Bukan untuk siapapun tetapi untuk dirinya sendiri.

Aku masih duduk di meja kerjaku. Memutar playlist, menyimpan pena itu, dan meninggalkan kertas putih itu di atas meja bersama kekecewaanku akan ketidak mampuanku untuk mengeluarkan setan-setan di dalam kepala.

Aku putuskan untuk membaringkan tubuhku sendiri di atas kasur. Kudengarkan nada-nada yang sedang bersetubuh di telingaku. Aku kembali menutup mata dan kembali merasakan kekecewaanku kepada lelaki itu, kepada para tokoh yang hadir di dalam hidupku akan ketidak becusan mereka memerankan tokoh-tokoh yang sudah Tuhan anugrahkan kepada mereka, atas kekecewaanku kepada keputusan dunia ini yang merepotkanku, kepada para komentator di jejaring media sosial yang tololnya minta ampun, dan yang paling besar adalah kebencianku kepada dia sekaligus merindukannya kehadirannya sekarang.

Lima menit berlalu dan aku merasa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku melalui pintu. Aku masih menutup mataku, dan kehadirannya begitu membuat hati dan pikiranku kembali tenang. Kekecewaan itu lenyap, kemarahan itu diendapkan jauh dari permukaan, dan kerinduan itu hilang perlahan-lahan ketika tangan itu menyentuh tangan kananku. 

Aku membuka mata. Dan ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Aku mengehela napas. Memikirkan semua itu membuatku semakin lelah saja. Aku hentikan persetubuhan nada-nada di telingaku dan duduk di atas kasur. 

Aku melemparkan pandanganku ke pena yang sudah berbaring di atas meja. Handphoneku bergetar, dan tertulis sebuah nama di sana.



Karawang, 15 September 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup