Mendengar untuk Didengar

"Semua kehidupan manusia di tengah-tengah manusia lainnya tidak lebih daripada sebuah perjuangan untuk mendapatkan telinga orang lain." Kitab Lupa dan Gelak Tawa

Sore ini, aku hanya ingin menulis setelah beberapa waktu sama sekali aku berjalan melewatinya begitu saja. Rasanya mual. Ini karena aku teringat sebuah kutipan dari buku karangan Milan Kundera. Kutipan yang aku maksud sudah aku tulis di atas.

Belum lama ini, kasus anak perempuan bernama Ina si Nononk pada akun facebooknya, memperoleh serangan fajar dari pengguna sosial media. Mulai dari anak-anak sebayanya, remaja, hingga orang dewasa. Mereka semua sibuk mencecar sang anak karena telah mengunggah foto bersama yang dia anggap sebagai kekasihnya di bawah selimut beberapa hari yang lalu. Kemudian semua orang menjadi jijik. Menyumpah-serapah, memberi komentar menyakitkan yang tak jarang itu kotor dan tak pantas. Seolah-olah mereka semua tidak pernah nafsu dengan yang namanya selangkangan. Atau kecanduan nonton film-film yang mempertontonkan hal dengan adegan serupa. Atau mungkin berpikir ingin melakukannya. Mereka seolah jijik. Dan suci.

Maksudku, kita bisa lihat berita tersebut dalam hitungan detik, memperoleh perhatian dari jutaan masyarakat yang selalu angkat bicara pada sesuatu yang 'langka'. Padahal kita semua bisa menemui hal tersebut di mana-mana. Kita berbicara seolah menjadi malaikat yang suci dari perbuatan apapun yang menjijikan. Yang sebenarnya sedikit pun tidak ada kontribusinya terhadap perkembangan anak tersebut. Pertanyaannya adalah, pernahkah kita menjaga mereka dari hal-hal yang tidak semestinya mereka lakukan pada usia dini? Aku sanksi. Aku pernah menuliskan hal ini sebelumnya.

Kita ikut-ikutan dan secara tidak langsung dikompori oleh beberapa orang yang begitu panas menanggapi hal tersebut. Mengeluarkan suara diantara mereka supaya didengar. Tapi apakah kita benar-benar mendengar dan didengar? Atau hanya memandang, dan meramaikan sesuatu hal yang tidak kita pahami? Aku sunggu tidak bisa mengatakannya, dan lagi pula hal ini sungguh tidak normatif untuk mereka yang mengerti normatif.

Dengan alasan bahwa kita prihatin terhadap generasi bangsa. Dan diatasi dengan menatap anak-anak dengan sinis serta berbicara bagai orang suci, adalah perbuatan yang seolah akan memperbaiki generasi yang mereka anggap bobrok. Apakah dengan mempermalukan anak-anak di depan publik adalah hal yang pantas untuk menolong generasi?Mereka merasa bahwa mereka pantas menilai sesutuu hal.

Seperti yang kita tahu, ketika sekolompok orang membicarakan sesuatu, salah satunya akan bercerita panjang lebar apapun yang ada di dalam pikirannya. Dan yang lainnya mendengarkan. Kemudian menyela dan mengatakan, "Ya, menurutku juga begitu, aku rasa..." Dan kemudia Ia menceritakan tentang pikirannya sendiri. Dan terus begitu sampai kiamat.

Maksudku, hal tersebut merupakan cara untuk membawa ide yang lainnya selangkah lebih maju. Tapi itu hanya ilusi. Ungkapan tadi bisa jadi merupakan sebuah pemberontakan atas usaha untuk membebaskan telinga seseorang dari perbudakan dengan cara menyelanya. 

Yang kita lakukan selama ini adalah berteriak sekencang-kencangnya agar didengar. Didengar dan menjadi suci dalam gelapnya prasangka. Yang kita lakukan selama ini adalah berkelana menjadi diri pada seseorang untuk dimaki, agar tak merasa hina sendiri. Yang kita lakukan selama ini adalah tidak ada, menyakiti orang lain atas kekecewaan terhadap diri sendiri. Yang kita ketahui adalah mencari jalan untuk mencaci maki diri sendiri. -NM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup