Sore Bersama Marhaenisme
6 hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang teman. Namanya Yuhri. Usianya lebih tua beberapa tahun dariku, aku tidak tahu pasti tepatnya. Bagiku Bang Yuhri merupakan pribadi yang menarik dan cukup cerdas. Aku cukup suka dengan caranya menyampaikan sesuatu. Karena itu tidak terlalu buruk. Bang Yuhri adalah seorang wartawan dari sebuah media yang cukup lumayan eksistensinya di daerah ini, maka dari itu sedikit banyak aku mengetahui beberapa hal dengan pasti melalui ceritanya.
Pada pertemuan sore itu, Bang Yuhri membicarakan mengenai ideologi Marhaenisme yang bermula dari cerita Bung Karno. Sudah jelas ia memiliki tujuan tertentu menjelaskan mengenai ideologi tersebut kepadaku. Dia berkata bahwa Mahaenisme itu merupakan Marxisme yang diindonesiakan. Bagi Bang Yuhri, karena semua itu berasal dari Om Karl Marx yang dipengaruhi oleh filsafat Hegel yang terkenal yang membuat 2 konsep atau lebih yang kemudian menjadi konsep baru yang ideal, maka, dia menganggap bahwa Om Hegel merupakan penutup dari segala filsafat.
Dialektika merupakan metode yang kerap digunakan oleh Om Hegel. Tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran), dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Terasa begitu tepat karena saling mengevaluasi. Bang Yuhri pun menjelaskan mengenai contoh kasusnya. Aku mendengarkannya dengan saksama sembari menunggu pesanan kami. Aku cukup puas mendengarkan penjelasannya namun tidak membuatku cukup tertarik dengan apa yang dia sampaikan.
Lalu selanjutnya, Bang Yuhri menjelaskan Trisila Marhaenisme yang dikemukakan oleh Bung Karno. Sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ke-Tuhanan yang berkebudayaan. Dan aku mendengarkan lagi.
Bang Yuhri menjelaskan sejarah demi sejarah yang berhubungan dengan pembahasannya, termasuk penyangkalan sejarah yang informasinya diketahui secara umum dengan penjelasan logis tentang kejadian yang pernah terjadi di masa silam. Namun aku tidak berhasil mengingatnya sekarang. Kejadian mengenai PKI, Soekarno yang terkalahkan, dan entahlah apalagi.
Secara tidak langsung Abang yang satu ini menginginkan aku ikut mengikuti jalur Marhaenisme. Kita harus memilih untuk membela dan mengikuti sesuatu, katanya kepadaku suatu hari. Tapi tetap saja aku tidak begitu tertarik walaupun menarik jika dipikirkan dalam-dalam. Aku tidak memiliki alasan khusus untuk ikut serta bersama Marhaenisme sekarang. Aku tidak menyukainya secara khusus tetapi bukan berarti aku benar-benar tidak suka. Begitulah.
Aku lebih suka dengan pemikiranku sekarang, tidak berada diantara mereka yang menginginkan ideologi tertentu berdiri seutuhnya, sekalipun dengan menggembor-gemborkan revolusi dan sebagainya. Aku memang orang yang begitu, aku tidak memiliki keinginan khusus terhadap sesuatu hal walaupun aku tetap mengejar sesuatu.
Ngomong-ngomong soal revolusi, sebenarnya revolusi macam apa yang pemuda itu inginkan sedangkan diri mereka saja selalu menjilat ucapan yang kerap kali tidak kusuka. Beberapa tahun mereka berada dalam suatu kelompok sibuk berceloteh sana-sini dan kemudian keluar, bekerja, menikah lalu memiliki anak. Dan kemudian tiba-tiba saja mereka lupa terhadap masa-masa yang seperti itu, masa-masa yang tidak sama sekali mengubah apapun dengan signifikan. Namun aku pikir bagus dengan adanya orang-orang seperti ini, pro dan kontra, dengan begitu ada dunia yang seperti aku suka yaitu tidak pro ataupun kontra. Bagiku semuanya biasa-biasa saja, toh aku hidup di zaman seperti ini bagiku tidak masalah.
Seperti pemikiran Bang Yuhri, membawa warna untukku sendiri, aku jadi lebih mengetahui banyak mengenai orang lain dan hal-hal tertentu. Dia cukup cermat menanggapi sesuatu hal, dan juga berani. Aku mendengar melalui ceritanya sendiri tentang keterlibatannya ia mengenai kasus di pemerintahan. Aku tidak ingin membicarakan hal itu, karena menurutku itu bukan urusanku, namun bukan berarti aku benar-benar apatis.
Bang Yuhri seorang yang menggilai Sapardi dan Aan Mansyur, aku tidak mengerti, mungkin dia benar-benar menggilai sastra. Bagiku dia bukan pribadi yang buruk tapi juga tidak terlalu baik. Pemikirannya syarat akan referensi walaupun aku tidak begitu tertarik terhadap apa yang dia suka.
Mungkin cukup dulu. Karena aku harus kuliah lagi.

Komentar
Posting Komentar