Tolonglah Generasi
Begini, membosankan juga jika kita hanya berdiam
diri di tempat tidur ataupun di tempat duduk seharian penuh. Kita seperti tidak
melakukan apapun walaupun sebenarnya banyak hal yang kita lakukan sembari
berdiam diri di tempat tidur ataupun di tempat duduk. Aku saja yang mungkin memang mudah bosan. Dan sebaiknya kita
menulis untuk hal-hal yang menyebalkan itu.
Kemarin saat membeli susu formula untuk
keponakanku yang cantik itu di salah satu pasar swalayan, aku bertemu dengan
segerombolan anak-anak usia kelas 5 – kelas 6 SD atau mungkin ada yang usia
SMP, namun yang jelas tidak lebih dari usia kelas 3 SMP. Mereka membeli
beraneka ragam minuman, maksudku dalam hal ini bukan minuman yang lazimnya
dikonsumsi anak-anak itu tetapi minuman yang biasa dikonsumsi orang dewasa yang
tidak baik jika dikonsumsi anak-anak karena salah satu dari produk-produk yang
mereka beli memliki aroma dan rasa seperti bir walaupun tidak memabukan. Mereka
membeli itu dan membayarnya di kasir tanpa merasa malu dan sebagainya. Penjaga
kasirnya pun sedikit ragu untuk melayani anak-anak tersebut, namun karena tidak
adanya atau tidak tegasnya sebuah larangan ataupun aturan bahwa penjual harus
melarang anak-anak di bawah usia untuk tidak mengkonsumsi produk-produk
tertentu maka penjaga kasir pun tidak memiliki alasan atau keengganan yang
kuat untuk tidak melayani anak-anak ini.
Mungkin setidaknya dari kejadian itu aku berpikir
bahwa keadaan anak-anak atau generasi kita saat ini bukan semata-mata menjadi
korban gencarnya globalisasi ataupun efek samping dari pergaulan dan tayangan
masa kini atau apalah itu, namun kita sebagai orang-orang yang di sekitarnya tidak peduli dan
tidak sama-sama menjaga mereka untuk tidak melakukan hal-hal yang “katakanlah”
dilakukan orang dewasa dan untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dari
yang seharusnya. Masa kecil mereka, kenangan yang akan mereka bawa hingga
dewasa yang harusnya manis dan penuh cerita indah harus terganti oleh
tindakan-tidakan mereka yang bagaimana ya mengatakannya. Aku pikir kita sudah sama-sama tahu yang kumaksud. Maksudku begini, aku
yakin seyakin-yakinnya anak-anak tetaplah anak-anak, baik secara pola pikir,
penggunaan akal, dan mental mereka belum matang seperti orang dewasa yang sudah
berpikir mandiri. Mereka juga tidak terlalu tahu apa yang mereka lakukan dan
kelak akan menjadi bagaimana terhadap diri mereka, maksudku kehidupan masa
kecil bagaimanapun bentuknya itu akan selalu kita bawa, aku percaya akan hal
ini. Aku tidak mengatakan semua anak-anak begitu, tetapi pastilah kebanyakan
anak-anak begitu.
Kita selalu berharap ini itu kepada mereka tetapi
kita tidak pernah sama-sama menjaga anak-anak ini. Maksudku dalam ceritaku di
atas, aku juga salah tidak menjaga mereka minimal dengan melakukan sesuatu
karena aku mengerti produk-produk itu tidak baik untuk mereka konsumsi tetapi
akupun nyatanya tidak bisa melakukan itu. Begitu juga dengan penjaga kasir. Maksudku
aku hanya kasihan kepada kita semua, kita hanya terus menerus berusaha untuk
melakukan suatu perubahan atau pembangunan atau perbaikan atau segala macam
tetapi pemicu persoalannya tidak kita atasi, investasi jangka panjang kita
tidak kita rawat. Aku jadi sedikit agak bingung soal ini. Maksudku jika tanggung
jawab sesama manusia atau atas “atas nama kemanusiaan” tidak atau belum begitu
cukup agar kita dapat menjaga seorang anak yang kita temui maka buatlah suatu
hukum yang membuat kita mau tidak mau menjaga mereka. Maksudku bukan menjaga
mereka setiap saat namun hanya pada kejadian-kejadian tertentu atau peristiwa
yang harus kita cegah ketika tidak sengaja kita menemuinya. Seperti yang
kuceritakan di atas.
Mungkin kalian dapat membaca uraian ini, pada
tulisan tersebut membahas mengenai age of
consent yang berlaku di negara-negara ASIA maupun Eropa dan Amerika. Siapa
tahu sebentar lagi ini pun “benar-benar” berlaku di negara kita. Aku memang
tidak menjamin hukum batasan usia untuk melakukan tindakan-tidakan tertentu
akan benar-benar menyelesaikan persoalan kita namun setidaknya kita dapat
mengontrol mereka dan setidaknya semuanya lebih teratur, orang-orang akan
menjadi lebih peduli terdahap anak-anak, dan siapa tahu hal itu akan
menyelesaikan sebagian persolan kita mengenai negara ini. Negara yang selalu
digembor-gemborkan bahwa semua orang mencintainya. Semoga saja bukan omong
kosong demi sepenggal kalimat baik di media sosial. Karena aku pikir kita hanya
butuh kesadaran atau keinginan atau kemauan untuk melakukan sesuatu yang benar
dengan kompak.
Komentar
Posting Komentar