KBI
Kali ini gue mau review tentang sesuatu yang sangat menakjubkan. Penemuan dunia baru yang memiliki banyak ruang dan waktu. Dihuni oleh makhluk-makhluk yang rajin menggunakan fungsi otak dan fungsi hati mereka dengan bijaksana. Dunia baru ini gue temukan pada tahun 2013 tepat pada saat bulan Ramadhan. Subhanallah bangetkan! Setelah susah payah gue terjuni lubang-lubang pikiran gue akhirnya gue menemukan kelahiran atau peristiwa Big Bang dunia ini. Yaitu pada tanggal 6 Oktober 2011 dunia ini lahir di alam semesta dengan jutaan bintang-bintang terang yang menyertainya.
Dunia ini diberinama Klub Buku Indonesia. Kehidupan di dunia ini sangat keras dan menantang. Ya, lebih keras dan menantang daripada kehidupan di Bumi. Serius. Buktinya setiap makhluk baru yang hendak menjadi penduduk dunia ini tidak sedikit yang memutuskan untuk hengkang dari dunia baru ini. Entah karena sebagian penduduk baru tidak kuat dengan cobaan hidup di KBI atau memang hukum-hukum KBI lebih membahana daripada hukum alam di Bumi. Dunia ini memiliki pemimpin utama yang dipanggil PAKDE dan para sepuh-sepuh yang di luar kebiasaan (maksud saya "luar biasa") yang memberi arahan dan mengajari para penduduk KBI menjalani hidup di dunia baru itu.
Gue sendiri memutuskan untuk memasuki dunia baru itu pada tahun 2013 dengan segala isi langit yang bisa dilihat di sana sampai saat ini gue masih berstatus penduduk KBI yang disahkan oleh para inye-inye di sana (baca: sepuh-sepuh).
Kegiatan dunia baru ini beroperasi di grup whatsapp dan gue menemukannya di dunia Twitter. Ah kebanyakan dunia deh. Lelah gue. Maklum aja gue adalah manusia nomaden yang kebanyakan mencari daripada dicari *kemudian pedih*. Sejak gue tinggal di KBI sejujur-jujurnya (ciee jujur) gue menemukan banyak hal dan pengalaman walaupun interaksi penduduk di dunia itu tidak selalu bertatapan langsung menemui wujud nyata penghuninya. Itu bukan masalah besar gue pikir di KBI. Karena buktinya untuk gue sendiri masih tetap di sana, mengubur luka, membangun harapan, menata masa depan, mendidik generasi tikung-menikung yang syari'ah.
Selama gue menghuni KBI, sudah banyak orang yang datang dan pergi. Jadi pelajaran pertama yang diperoleh di dunia itu adalah saya sudah terbiasa menyambut luka dan melepaskan kenangan *apeu*. Sudah mengalami beberapa program yang didirikan para sepuh dan menjalankannya. Mulai dari pembuatan agenda topik pembahasan yang dimentori oleh penduduk yang ahli di bidangnya hingga program #LebihDekatBersamaMemberKBI yang isinya adalah saling menceritakan pengalaman, identitas diri, ketakutan, dan kebahagiaan dalam bentuk apapun yang dikehendaki para penduduk yang bergantian menjadi narasumber. Ada kegiatan bahas buku bulanan, maksudnya adalah jadi setiap bulan ada satu judul buku yang akan dibahas dan dibaca bersama-sama oleh para penduduk KBI dan satu relawan diantara penduduk yang menjadi momodnya.
Penduduk di KBI sangat aktif atau hiperaktif :| apapun itu. Setidaknya untuk gue pribadi KBI memuaskan rasa haus gue. Bukan, bukan haus karena butuh air minum tapi dalam artian lain. Hubungan antar penduduk terjalin sangat baik walaupun mata belum saling bertemu *ebuset*. Seperti kehidupan di Bumi, ketika memasuki lingkungan yang baru manusia harus bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan itu, harus juga terbiasa dengan keadaan lingkungan tersebut. Semua itu berlaku juga di dunia baru ini, perlu penyesuaian dan penerimaan yang sabar untuk mengetahui kehidupan di KBI. Jika sudah mengenal, dunia itu bahkan akan terasa nyaman sama seperti kita semua berada di tempat ternyaman kita.
KBI betapapun jauhnya mereka, betapapun mengesalkannya para penduduk tetapi hidup bersama mereka sangat menyenangkan. Setidaknya bersamaan dengan mengenal para penduduk di sana sedikit banyak dunia gue juga ikut terbuka. Pintu-pintu terbuka dengan sendirinya, jendela-jendela memasukan cahaya terang dari penduduk di sana. Bukankah langit tetap sama? Untuk melihatnya semua orang pasti melihat ke atas. Seperti harapan, mereka adalah seberkas cahaya yang mengatarkan kepada harapan itu. *busetttttt* *ini sengaja gue dramain karena gue korban K-Drama*
So, kalian yang mau join, join aja. Yang mau meninggalkan, tinggalkan saja. Penduduk KBI sudah terbiasa menghadapi kenangan dan kenyataan, betapapun pedihnya. Bahkan sudah menjadi profesional dalam hal ketahanan hati akan luka berserta kenangan dan segala wawasan yang sebenar-benarnya ada. Kalian gak akan tahu rasanya seperti apa kehidupan di dunia baru itu, sebelum kalian memasukinya sendiri. Tenang saja tidak akan ada yang terluka.
| Klub Buku Indonesia |
Komentar
Posting Komentar