IPM Karawang

sumber

Jika di sebuah kota/wilayah terdapat sektor industri dan pertanian serta sektor kelautan yang melimpah namun masyarakat lokalnya masih miskin.

Kabupaten Karawang yang terkenal daerah dengan potensial tinggi ternyata berdasarkan data dari Dinas Sosial setempat 60% dari jumlah penduduknya sekitar 2.020.000 lebih masyarakatnya masih berada di garis kemiskinan. Apa yang terjadi?

Indeks Pembanguna Manusia di Kabupaten Karawang masih rendah karena daya beli masyarakat rendah yang disebabkan oleh rendahnya jenjang pendidikan masyarakat daerah. Tiga faktor yang menjadi acuan IPM adalah Pendidikan, Kesehatan, dan Aspek Ekonomi Masyarakat. Dan Karawang menempati urutan ke-23 dari 26 kota/kabupaten di Jawa Barat. Sungguh disayangkan dengan daerah yang memiliki potensi tinggi namun IPM rendah.

10 Januari 2015, saya mengunjungi seorang ketua dari sebuah lembaga PKBM yang bergerak dibidang pendidikan non formal, Kang Ndin namanya. Beliau mengatakan sampai saat ini di daerahnya (Dauan) yang merupakan bagian dari Karawang masih ada yang tidak memiliki Ijazah SD. Beliau juga mengakui bahwa mindset masyarakat yang instan dan hanya berharap bantuan dari pemerintah atupun CSR perusahaan berupa sesuatu hal yang bisa di makan secara langsung (misalnya; uang dan sembako) adalah hal yang paling di harapkan ketimbang bantuan pembentukan lembaga noformal ataupun lembaga-lembaga kepelatihan guna meningkatkan kualitas SDM. Beliau yang bukan asli warga karawang mencoba untuk membangun lembaga tersebut guna membantu menigkatkan skill masyarakat khususnya para pemuda-pemudi agar dapat melanjukan pendidikannya dan bersaing dengan yang lainnya. Upaya ini sudah dibangun selama kurang lebih 10 tahun bersama 2 rekannya dan telah menghasilkan 200 orang lulusan dari jenjang Kesetaraan dan Pelatihan. Lembaga PKBM ini juga telah memiliki 13 mentor yang berpendidikan SMA-Sarjana. Lulusan dari lembaga ini ada yang sudah melanjutkan ke perguruaan tinggi dan bekerja di perusahaan.

Namun sayang masyarat tidak mau diajak untuk mengembagkan kualitas SDMnya. Menurut Kang Ndin masyarakat masih berpikir sempit dan dangkal dan semua ini yang mungkin saja menjadi pemicu Karawang memiliki IPM yang rendah. "Jika akhir tahun demo kenaikan gaji dan bonus, terus menerus setiap tahun tetapi masyarakat tidak mau mengevaluasi diri mereka dan mengembangkan kualitas SDM sesuai dengan tuntutan-tuntutan mereka." begitulah kira-kira yang di katakan Kang Ndin. Beliau sangat berharap masyarakat lebih mencintai proses untuk memperoleh "makan" ketimbang memperolehnya dengan cara yang instan. Kang Ndin juga berencana membuat workshop dan membagi pengetahuan berbisnis, "Lembaga ini pernah memberikan bengkel beserta semua peralatan yang dibutuhkan untuk dikelola oleh mereka yang ingin mengelolanya, baru 3-4 bulan keuntungan habis dan merugi." begitulah kira-kira perkataan Kang Ndin, "terlalu dangkal untuk berpikir sekolah tinggi hanya untuk bekerja saja. Terlebih lagi masyarakat menganggap yang terpenting itu dapat kerja di HONDA, KUJANG, YAMAHA, dan TOYOTA. Ini yang menjadi PR kita semua. Sekolah itu untuk meningkatkan kualitas SDM, bukan semata-mata bekerja apalagi hanya menjadi buruh saja. Lulus SMA langsung kerja. Sekolah hanya menjadi alasan memperoleh legalitas alias Ijazah yang nantinya digunakan untuk melamar pekerjaan" Lanjut Kang Ndin dalam percakapan siang itu.

"Karawang, Kabupaten degan kawasan industri yang menjanjikan dan kawasan agraris yang potensial tetapi masyarakatnya miskin? Kenapa? Karena mereka tidak dapat mengubah singkong menjadi kripik, tidak bisa mengubah beras menjadi ranginang." begitulah kata dosen Manajemen Strategi. Intinya adalah pembisnis Karawang masih minim untuk menghasilkan bahan mentah menjadi barang jadi. Masyarakat cenderung menjual bahan mentah dan membeli barang jadi.

Mungkin meningkatkan IPM Kabupaten Karawang adalah dengan cara meningkatkan pelatihan-pelatihan. Setidak-tidaknya masyarakat memiliki skill. Dan tentu saja dengan mendukung UMKM/UKM Karawang. Pembisnis-pembisnis Karawang dapat mengembangkan bisnisnya dengan cara peminjaman KUR (Kredit Usaha Masyarakat) kepada perusahaan-perusahaan yang bergerak pada peminjaman kredit. Andaikan UMKM membutuhkan dana untuk mengembangkan bisnis mereka, dapat meminta pinjaman kredit kepada perusahaan yang bergerak di sektor tersebut. Misalnya saja UMKM membutuhkan dana sebesar Rp. 100 juta, mereka harus memiliki 150% agunan sebagai jaminannya. Nah Rp.150 juta yang menjadi agunan itu 30%nya ditanggung oleh pengusaha UMKM dan 70% dibantu oleh perusahaan peminjaman sehingga beban peminjaman oleh pengusaha kecil jauh lebih ringan. Sesuai dengan penilaian kelayakan dari perusahaan peminjaman, Bank akan mengeluarkan kreditnya sebesar Rp. 100 juta kepada pengusaha dan pengusaha hanya memberi 30% dari agunan yang menjadi jaminan dan sisanya 70% dibantu oleh perusahaan peminjaman. Nah yang 70% ini sebagai ganti telah membantu usaha kecil masyarakat, pemeritah memberikan premi kepada perusahaa peminjaman tersebut sebagai gantinya, dan premi yang dibayarkan itu berasal dari APBN negara. Atau mungkin bagi masyarakat karawang yang ingin mengembangkan usahanya dapat mengakses UKM Karawang.

Solusi diatas mungkin dapat menjadi upaya meningkatkan IPM Karawang, dengan masyarakat yang melek akan pendidikan maka akan meningkatkan produktivitas masyarakat itu sendiri sehingga keadaan ekonomi masyarakat mencapai garis standar hidup yang layak, kemudian daya beli masyarakat dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan. Dengan begitu masyarakat akan memulai untuk memanfaatkan apa yang dimiliki di tanahnya dan tidak manja. Dan semoga pemerintah setempat lebih perduli terhadap kesejahteraan masyarakat. Segala aspek pembanguna harus diimbangi dengan faktor lainnya. Seperti kesiapan masyarakat tentang lingkungan yang akan mempengaruhi mindset serta gaya hidupnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup