Jumatulis Season 02 - 08 Reuni – Pertemuan Yang Selalu Menyisihkan Pesan
Pagi ini hari libur
nasional, aku baringkan lebih lama tubuhku di atas ranjang yang begitu nyaman.
Lebih nyaman dari pelukan seorang kekasih, mungkin. Lebih hangat dari dekapan
seorang teman. Teman? Aku teringat sesuatu. Aku paksakan tubuhku untuk terbangun
dan mengambil posisi duduk kemudian kulihat kalender yang berisikan
tanggal-tanggal penting. Dan hari ini adalah salah satu tanggal yang kutandai.
Aku harus menemui teman-teman SMAku. Kami belum lama berpisah semenjak lulus
dari SMA dua tahun yang lalu. Tetapi rasanya sudah sangat lama sekali. Mereka
begitu terkesan dan terkenang dalam visual tersendiri. Bagaimana tidak hampir
separuh kehidupan masa mudaku, aku habiskan dengan mereka. Teman-temanku yang
entahlah mungkin saat ini mereka berkembang dan sangat hebat.
Aku harus segera
bersiap-siap, pukul 10 pagi ini menjadi waktu yang kami pilih untuk sekadar
menyambung silaturahmi. Tentu aku selalu antusias dengan pertemuan dengan
orang-orang. Aku selalu dan sangat siap
mendengar, menyimak, dan menyimpan semua cerita mereka mulai dari yang
ringan hingga yang berat. Yang paling penting dari segalanya adalah aku merindukan
bercanda bersama mereka. Dua tahun ini tidak banyak yang berubah dari selera
berpenampilanku, aku tidak suka menggunakan pakaian yang menyulitkan untuk
bergerak sekalipun pakaian itu mahal, atau terserah apapun itu. Aku tidak
tertarik untuk membahas hal seperti itu nanti. Kupikir apa yang berubah dari
waktu dua tahun? Entahlah biarkan aku menerima penilaian dari mereka.
***
Wajah-wajah penuh
semangat itu aku lihat kembali. Ke-20 teman-temanku di masa SMA sudah mengambil
tempat duduk mereka dan saling bercerita. Aku menjabat tangan temanku satu
persatu, mendekapnya sebagai teman lama yang jarang sekali berbicara walalupun
kini media informasi dan komunikasi sudah sangat memadai untuk itu. Berbeda
dunia, berbeda waktu, dan mungkin pertemuan yang minim terkadang memisahkan
pikiran kami semua. Tapi semua itu tidak lagi terjadi di hari ini. Di pagi yang
cerah ini aku menyimak mereka semua.
“Lo banyak berubah ya.
Ngeri.” Saling mengomentari satu sama lain.
“Dua tahun memang waktu
yang tidak lama, tetapi keadaan itu berubah terlalu cepat. Kita semua gak
pernah mengiranya.” Sahut Randi. Dia adalah ketua kelas di kelas XII. Randi
banyak berubah sekali, semakin tampan dan berwibawa. Ketua kelasku yang selalu
memprioritaskan hasil akhir. Baginya sangat penting memperoleh nilai baik.
“Gue gak berubah banyak
ya? Hahaha... Gue belum bisa mengejutkan kalian dalam dua tahun ini.” Rimba
berkata dengan santainya. Temanku yang cuek itu selalu tenang dan tidak terlalu
memusingkan akan sebuah pencapaian. Baginya hidup itu tetap sama saat di garis
manapun, di jalan manapun kita berada. Kita tetap sama. Jadi untuk apa mencapai
jika memang semuanya sama? Itulah Rimba, siapa yang tahu jika memang dia jauh
lebih bijaksana dalam menyikapi kehidupan dan pilihannya sendiri.
“Kita semua masih dalam
perjalan ya. Aku tidak sabar menunggu masa depan kita yang sesungguhnya. Siapa
yang pertama kali mengejutkan kita semua?” Giliran Agnesi yang bersuara. Si
cantik kalem itu selalu terlihat hangat dan tenang. Tipe wanita yang lembut dan
yang tidak pernah berpihak jika ada masalah di antara kami. Sebenarnya kami di
sini hanya untuk sepuluh orang. Sepuluh orang yang lainnya hanya bagian dari
kami. Ya, kami yang memiliki cerita ini. Dan saya adalah pembuat ingatan untuk
semua kejadian yang kami terima dalam bentuk tulisan.
“Kalau aku, aku tetap
tidak akan kalah dari kalian semua.” Sahutku kemudian. Kami semua tertawa.
Banyak cerita yang kami
ceritakan kembali. Banyak cerita yang kuungkap kembali. Kembali. Bukan untuk
mengingat itu pahit atau manis. Tetapi kembali, untuk menjadi pengingat bahwa
kami masing-masing memikul beban, sama-sama mengingat bahwa masa lalu itu tidak
pernah ada. Yang ada hanyalah kapan kau mengadakannya lagi. Kami terus seperti
ini berpisah lalu kembali. Lalu kemudian kami belajar. Tak banyak yang berubah bagiku.
Aku iri kepada mereka yang terus berkembang. Namun tawa kami tetap sama.
Tidak banyak yang berubah. Hanya saja aku merasa
teman-temanku sedikit lebih dewasa tetapi pertemuan kami sekaligus memberi
gambaran bahwa kami tetaplah anak-anak kecil yang nakal. Aku tetap berlari dan begitu pun mereka. Aku bertaruh siapa yang akan pertama kali menginjak finish. Tidak ada ukuran untuk memandang masa depan dan puncak pencapaian. Namun mata kami memilikinya. Pikiran kami mengukurnya. Tidak sopan memang sebagai manusia harus mengukur dan membuat batas untuk manusia yang lain. Namun jika tidak begitu, untuk apa mata dan otak ini Tuhan ciptakan, ha?

Komentar
Posting Komentar