#BGANia : Alogaritma Bahagia

Aku bahagia! Kata Kak Nia aku harus menuliskan suatu kebahagiaan di bulan ini.

Agustus ini aku bahagia! Kenapa? Karena alogaritma matematika kebahagiaanku mampu memecahkan persoalannya di bulan ini. Bulan Agustus. Selain bulan yang menjadi kunci waktu supermoon tiba untuk kedua kalinya di tahun ini, Agustus juga menjadi bulan di mana aku bertemu kembali di dalam satu tempat, satu waktu, satu dimensi yang sama bersama orang-orang yang mengajariku banyak arti. Orang-orang yang sebelumnya tak sengaja aku kenal. Tak sengaja.

Rencana bermainku ke Jakarta bersama Tri dan Anna adalah rencana kebetulan yang menyenangkan. Awalnya kami bosan di rumah, rasanya sudah puas membagi waktu bersama keluarga sepanjang Ramadhan hingga Hari Raya berakhir.

Planetarium adalah tujuan utamaku. Kemudian karena aku tak tahu arah jalanan dan transportasi Jakarta, akhirnya aku putuskan untuk bertanya kepada Kak Ria yang dengan alogaritma kebetulan, Tuhan mengulurkan tangan Kak Ria untuk mengantarku seharian berada di Bumi Jakarta yang sejak dulu aku benci itu. 

Alogaritma kebetulan Tuhan yang rumit terbaca, membawa teman-temanku dari Cilegon, Lampung, Jakarta, dan Bekasi ikut berpartisipasi dalam rencana yang kemudian melebur menjadi satu. Planetarium bukan lagi tujuan utamaku setelah mendengar kawanku yang lain akan ikut bermain hari itu, 9 Agustus 2014. Bertemu dengan merekalah yang menjadi alogaritma harapanku semakin penuh dan terasa akan sangat menyenangkan. Mengingat mereka adalah orang dewasa yang menyenangkan! Iya bagaimana tidak, aku sering membuat ulah dan entahlah mungkin mereka memakluminya. Yang pertama, aku iseng menanyai seorang sopir taxi mengenai pemindahan kekuasaan di Jakarta dalam perjalanan kami dari Planetarium menuju Monas. Sopir itu menjawab dengan heran, tetapi teman-temanku di belakang sudah jelas mengerti maksud kelakuanku itu.

Yang kedua, aku menggapai puncak Monas, ini sumpah norak, tapi aku senang karena aku menaikinya bersama mereka (orang dewasa yang menyenangkan) dan aku menyelesaikan rasa penasaranku kepada sosok kota yang sok jagoan ini.

Yang ketiga, ketika di perjalanan pulang dan kami harus menunggu kereta ke Cikampek satu jam lagi, kami (saya, Tri, dan Anna) memutuskan untuk menunggu di Dunkin Donuts Stasiun Jakarta Kota. Keadaan saat itu sepi, hanya ada satu pelanggan dan kami bertiga serta dua laki-laki dan dua perempuan yang menjaga restoran itu. Setelah puas menyusun suara lantang dengan ocehan-ocehan kami di restoran itu dan mengingat kereta kami hendak berangkat, aku dengan iseng meminta bill kepada seorang penjaga laki-laki yang kemudian menghampiri meja kami.

"Mas semua harganya berapa?"

"Rp.89.700, Mbak."

"Uang saya seratus ribu, berarti kembaliannya berapa coba, Mas." Tanyaku dengan nada bercanda.

"Sepuluh ribu tiga ratus rupiah, Mbak." Jawabnya dengan tampang cengar-cengir.

"Yaudah kalau begitu, tiga ratusnya buat Mas, ya!" Kataku kemudian. Teman-temanku tertawa begitu juga dengan para penjaga restoran yang lainnya. HAHAHA.

Setelah menerima kembali sisa uang kembalian itu, kami pergi menuju kereta yang membawa kami meluncur selama 4 jam lamanya menuju Cikampek. Transportasi gila! Aku mengutuknya selama perjalanan.

Aku selalu menikmati perjalan. Bagaimanapun bentuknya, se-mengesalkan apapun nyatanya. Mentari senja selalu menjadi penutup keceriaan yang tak membesitkan luka. Aku bahagia hari itu karena rinduku bertemu dengan orang dewasa yang menyenangkan terwujud kembali. Bukan karena liburan atapun hiburan yang ada di tempat-tempat yang kami singgahi, namun kesan dari suatu kebersamaan itulah yang aku dapatkan. Mana kala aku berbincang bersama mereka seharian penuh, melakukan hal-hal yang terkesan memalukan namun apa boleh buat, 'hal gila' terkadang membuat semuanya seperti bebas dan baik-baik saja.

Aku tidak pernah tahu sejauh mana Alogaritma Matematika Tuhan menyelsaikan semua persoalan-persoalannya.  Termasuk persoalan dari kata 'bahagia' itu sendiri. Aku hanya meyakini satu hal dari kemungkinan yang jumlahnya mencapai tak hingga itu adalah hanya satu. Satu untuk satu orang yang kemudian melebur dalam reaksi-reaksi yang mencampurkan alogaritma Tuhan di dalamnya.

Selama seharian itu aku banyak berbicara dengan temanku Anna selama perjalanan menuju Jakarta dan kemudian berbicara banyak hal bersama Tri dalam perjalanan menuju Cikampek. Sempat terpikir olehku mengapa Tuhan menciptakan suatu Alogaritma yang rapi, tak terbaca, tak terelakan, sistematis, dan tak terpikir.

Aku bahagia, Agustus! Aku menyambut penyelesaian alogaritma bahagiaku! Aku menyambut supermoon yang indahnya tak terbantahkan! Aku menyambut proses pendewasaanku melalui perjalanan! Sampai bertemu alogaritma bahagia yang tak akan kunjung mengakhiri siklusnya!

Aku bahagia, seberapapun lelahnya sebuah perjalanan. Menjawab batas-batas pertanyaan.
 
Jadi biarkan kutanyakan lagi kepada Kak Nia, bagaimana alogaritma bahagiamu melukis senyum diraut wajah Kakak yang lelah itu? :p Bisakah Kakak bahagia tanpa meminta?

****

"Tulisan ini diikutsertakan di dalam lomba #BGANia yang diadakan di sini [ http://kata-nia.blogspot.com/2014/07/BGANia.html ]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup