Demi Selembar Kertas Bernominal


Nah, Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2014 nanti sepertinya saya akan ikut memilih untuk yang pertama kalinya. Partai-partai yang lolos sebagai peserta Pemilu 2014 adalah Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, PDIP, Partai Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PPP, dan Hanura.

Nama-nama partai diatas tidak asing ditelinga saya, nama Partai ini hampir setiap hari saya dengar. Dan mungkin saya adalah anak baru dalam dunia politik tidak langsung di Indonesia karena saya baru saja menginjak usia 18 tahun dan mulai mencari tahu lebih dalam mengenai hal ini. Terlepas dari itu semua, ijinkan saya berpendapat mengenai apa saja yang ada didalam benak saya, walaupun memang saya masih seumur jagung. Pasal 1 (1) UU No. 9 Tahun 1998.

Sejak dulu, ketika saya masih duduk dibangku SMP, entah duduk dibangku kelas berapa, saya lupa, saya selalu melihat proses pemilu, mulai dari persiapannya, cara pemilihan orang-orang yang sudah berhak memilih hingga perhitungan suara. Saya melihat langsung, mengamati apa yang Ayah saya lakukan ketika pemilu hendak dilaksanakan. Satu hari sebelum pelaksanaan, pada malam harinya rumah saya selalu ramai oleh orang-orang yang berkaitan dengan kegiatan ini  di tempat tinggal saya dan juga pengiriman berkas-berkas serta kotak suara.

Pada saat itu saya hanya diam dan selalu memperhatikan kesibukan ayah saya yang menulis surat-surat entah itu surat apa. Ayah terlihat sibuk sekali, begitu juga dengan Ibu. Mungkin saat itu saya masih kecil dan hanya melihat saja apa yang kedua orang tua saya lakukan berserta teman-teman beliau.

Saat itu sempat saya bertaya kepada Ibu, "Mah, yang dipilih itu caranya seperti apa?" Kemudia Ibu saya menjelaskan sedikit dan sangat singkat. Lalu saya bertanya segala hal kepada Ayah namun Ayah begitu sangat sibuk. Akhirnya saya hanya nongkrong-nongkrong saja di POS Pemilu yang digawangi oleh Ayah. Sampai sekarang saya sudah beranjak dewasa, sudah tiba waktu saya yang memilih. 

Yaps, Pemilu tahun 2014, sepertinya beberapa calon kandidat menuai sensasi hehe. Dan setiap berita-berita yang "aneh" mengenai beberapa kandidat ini saya selalu tersenyum dan mencoba mengabaikannya mana kala saya melewati televisi yang menayangkan berita tersebut. Entahlah Indonesia akan menjadi seperti apa dan siapa yang akan memimpin Indonesia setelah Bapak SBY. Dan tentu saja harapan saya mengenai pelaksanaan sistem dan segala aspek yang ada didalamnya menjadi sangat-sangat lebih baik, dan para wakil rakyat yang tidak lagi tersandung kasus hukum. Tetapi saya tidak begitu yakin.

Ketidak yakinan saya muncul memang sejak saya masih kelas tiga SMA, dan diperkuat oleh kejadian kemarin yang membuat saya tercengang. Seseorang yang mungkin merupakan "Tim Sukses" dari salah satu Partai Pemilu 2014 datang menemui saya dan meminta saya untuk menanda tangani selembar kertas. Dikertas tersebut terdaftar juga beberapa nama yang juga menandatangani kertas tersebut. Saat itu saya tidak mengerti apa maksudnya ini, sedangkan ketika saya meminta penjelasan kepada beliau, beliau hanya meminta saya untuk menandatangani kertas tersebut. Akhirnya saya tanda tangani dan diakhir pertemuan kami, beliau mengatakan bahwa saya harus memilih partai tersebut dan saya akan diberi upah untuk itu.

Kemudian hal itu terlihat lagi oleh saya, ketika saya sedang bermain, orang yang berbeda melakukan hal yang sama dan pada Partai yang sama pula. Saat itu saya sudah mulai memahami dengan sendirinya, mentertawakannya didalam hati. Saya memang menandatangani kertas tersebut tetapi jika saya tidak memilih partai yang bersangkutan itu tidak masalah bukan? Anda licik namun suara saya tidak bisa dibeli hanya dengan selembar kertas yang memiki nominal (uang). Anda cerdik? Saya tidak bodoh.

Lalu apa yang saya harus yakini kemudian? Apakah hal ini juga dilakukan oleh peserta Pemilu yang lain? Entahlah. Bagaimanapun saya tetap tidak memandang sebelah mata, bahwa dalam kepercayaan saya selalu ada orang yang bertanggung jawab diantaranya, hanya saja tinggal kecerdikan kita sebagai pemilih yang menentukan nantinya.

Saat ini gembar-gembor mengenai kepemerintahan, entahlah rasanya saya sudah bosan dengan propokasi yang bertemakan sama selama beberapa tahun ini, namun itulah manusia, membawa alasan penyakit "amnesia" ketika partai yang mereka pilih tidak sesuai dengan yang diharapkan, mereka sibuk mencaci maki padahal semua ini tidak lepas dari peran mereka yang mungkin saja menjual suaranya demi selembar kertas bernominal.

Just my mind. Don't so serious.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup