Bagi Saya Ini Lebih Dari Lelucon



Bosan rasanya setiap kali mengunjungi salah satu tempat di Karawang melalui jalan-jalan yang sialan itu. Bagaimana tidak? mungkin lebih dari 80% jalan itu tidak layak di katakan sebagai jalan umum atau jalan raya. Ya, jalan itu tidak mulus, berlubang disetiap KM-nya dan itu memuakan saya, saya tidak nyaman, rasanya selalu lelah tiap kali harus pergi ketempat yang saya tuju yang hanya berjarak 25KM, rasanya sudah seperti lelah sekali.

Lalu lintas semraut seperti tidak memiliki petugas keamanan dan penegakan hukum. Rambu-rambu lalu lintas hanya terpajang bagaikan angin berlalu, betul-betul tidak berguna, tidak terurus. Entahlah apa yang dipikirkan pemimpin Kabupaten ini sehingga kota ini seperti mati, kehilangan pemimpin, kehilangan para penegak hukum yang seharusnya memberi fasilitas kepada masyarakat dan mengayominya dengan baik.

Bayangkan saja, sepanjang kurang lebih 25KM menuju tempat tujuan, saya melalui 4 persimpangan dan satu diantaranya tidak memiliki lampu merah, benar-benar memuakan. Semua orang saling egois, maju kedepan untuk sekedar melanjutkan perjalanan atau berputar arah, terlebih lagi terdapat banyak bagian-bagian penyebrangan yang dilakukan untuk memutar arah, sembarangan. Dan di empat persimpangan tersebut terdapat posko polisi dan ya, selalu kosong. HAHA.. Memuakan! Saya seperti tinggal dikota yang tanpa aturan. Mungkin tidak juga, aturan bukankah selalu ada? ya ada, aturan yang kami buat sendiri, aturan yang dibuat oleh masyarakat perkelompok, bukan lagi satu suara dan hukum dan tata tertib, dan saya? saya sebagai orang yang hanya melewati beberapa bagian yang memuakan harus menaatinya, kalau tidak? bisa dibunuh mungkin. Haha.. bercanda..

Setelah jalanan hancur, ke-4 persimpangan kurang teratur, rambu-rambu lalu lintas yang ada tidak berguna, posko polisi yang selalu kosong setiap saya melintas pulang-pergi, benar-benar tidak indah. Tidak! Dan saatnya saya akan menyinggung pelaksananya, Bapak-bapak Polisi yang sangat gagah dengan perut buncitnya. Tidak semua buncit kok hehe.. Tapi sungguh itu memuakan bagaimana tidak saya melihat para Bapak-bapak ini turun kejalan hanya ketika waktu-waktu tertentu dan waktu razia, iya Razia :) dimulai pukul 8 pagi hingga 12 siang. selebihnya? Selebihnya tentu mereka menghilang lagi, entah kemana dan kemana haha.. Serius. Pukul 7 pagi saya sudah berada dijalanan bersama pengendara yang lain, pergi ketempat tujuan dan dimana mereka? Masih meringkuk? saya tidak tahu hehe. Dan terlebih lagi mereka kalah dengan anak remaja tanggung seperti saya dan Bapak-bapak yang berdiri di persimpangan atau tempat pemutaran arah yang sembarangan dengan mengenakan rompi hijau bertuliskan "polisi", topi diatas kepala, dan peluit yang melingkari lehernya.

Yeah, saya hidup dikota yang semraut, panas, orang-orang egois, macet, menyebalkan, tanpa pemimpin, dan tanpa aturan. Yeah! Apakah ini merdeka? Tentu tidak, ini MEMUAKAN! Entah kemana perginya para pesoroh di Karawang yang terhormat ini, entah apa yang mereka pikirkan dan entah apa yang menjadi kendala sehingga untuk memasang lampu merah dan rambu-rambu lalu lintaspun begitu sulit dan berat. Ah! Tentu saya tidak perduli dengan apa yang ada didalam sana, toh kewajiban saya membayar pajak sudah dibayar oleh kedua orang tua saya, saya menjamin itu, karena ayah saya seorang Guru!

Tidakkah mereka-mereka yang diatas ini memikirkan hal sekecil ini? Kecil? Hehe bagi saya ini ringan, toh tinggal mengeluarkan anggaran daerah semua beres bukan? Ah entahlah saya tidak perduli. Saya sungguh tidak perduli apa yang para petinggi itu lakukan, saya hanya perduli terhadap lapangan. Tentu saja, saya merasa dirugikan, jarak 25KM saja sungguh sangat melelahkan terlebih lagi ketika hujan, bisa-bisa banyak terjadi kecelakaan, kemacetan tidak teratur dan selama dua minggu hujan turun saya tidak pernah melihat Polisi berdiri untuk mengatur lalu lintas dan apa yang lebih lucu, Razia yang biasanya hampir setiap hari di genjarkan mendadak hilang. Haha.. Lucu bukan? Tentu tidak. Ini MEMUAKAN!

Sungguh, saya tidak perduli dengan orang-orang diatas saya, saya perduli dengan keselamatan semua orang dan fasilitas yang seharusnya saya dan masyarakat dapatkan. 4 tahun lalu, ketika pemilu Bupati Karawang, usia saya 14tahun, dan tentu saya tidak tahu menahu siapa yang menjadi pemimpin di Kabupaten ini. Dan tentu saja, saya tidak ikut memilih. Dan sampai saat ini ketika saya tumbuh menjadi Remaja tanggung 18 tahun, saya tidak pernah berniat mengenali petinggi-petinggi itu walaupun foto-foto mereka terpampang disekolah dan ditempat-tempat lainnya. Untuk apa? Saya sungguh tidak berminat, sekali pun untuk mengenal sosok Bapak SBY, orang nomor satu di Negara ini. Saya hanya berminat mengenali orang-orang yang hebat menurut saya. Tentu pembaca tahu apa maksud saya? Haha

Bagaimanapun kesulitan, masalah-masalah didalam sana, saat kepemimpinan siapapun, setidaknya perubahan harus selalu ada bukan? perbaikan harus terlaksana bukan? Entahlah sungguh saya tidak berminat untuk mengetahui petinggi ini seperti apa, sungguh. Tapi yang saya tahu adalah mengenai fasilitas yang harus dipenuhi terutama untuk kepentingan bersama, kepentingan umum dan tentu saja untuk keselamatan pengguna kendaraan, serta ketertiban bersama.

Bagaimanapun masa lalu, haruslah ada perbaikan, perbaikan yang signifikan, perbaikan yang menguntungkan banyak pihak, tidak menjatuhkan banyak ancaman, tidak, tentu tidak seperti itu. Bagaimanapun saya tidak perduli dengan kendala kalian yang berada diatas, tolonglah lihat amanah dan janji-janji yang sudah kalian janjikan, sedikit apapun, sekecil apapun, saya sungguh tidak meminta lebih. Perdulikan fasilitas umum, sesulit itukah? Bukankah itu bukan hal yang berat? sungguh tidak. Bukankah ada anggaran untuk setiap daerah? Lalu? Lucu bukan? Ah Tentu tidak! Ini lebih dari sekedar lelucon.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pihak yang saya sebutkan. Saya sungguh mohon maaf, sungguh untuk anak seusia saya, ini sungguh MEMUAKAN! :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Dewasa

Selamat Ulang Tahun

Hidup dan Yang Membuatnya Hidup